Apa prediksi ekonom yang berhasil menebak juara pada tiga Piala Dunia?

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Flora Snelson
- Peranan, Jurnalis BBC Sport
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 3 menit
Ketika Paul si Gurita memprediksi dengan benar semua hasil pertandingan tim nasional Jerman pada Piala Dunia 2010, hewan laut itu dipuja dunia.
Namun, sejatinya Paul si Gurita kalah jitu jika dibandingkan dengan ekonom Jerman, Joachim Klement. Pria tersebut membuat permodelan yang 100% terbukti mampu memprediksi juara Piala Dunia sejak 2014.
Melalui permodelan buatannya, Joachim bisa memetakan jalannya Piala Dunia 2026 yang untuk pertama kalinya diadakan di tiga negara: Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, antara 11 Juni hingga 19 Juli.

Sumber gambar, Getty Images
Permodelan bikinan Joachim sanggup memprediksi hasil turnamen yang diikuti 48 tim nasional tersebut—mulai dari kemenangan mengejutkan Jepang atas Brasil di babak gugur hingga Skotlandia tersingkir oleh Korea Selatan pada babak yang sama.
Adapun timnas Inggris diperkirakan mencapai semifinal. Namun langkah tim asuhan Thomas Tuchel tersebut akan diadang Portugal seperti terjadi pada Piala Dunia 2006. Apakah laga kedua tim akan berujung adu penalti sebagaimana dua dekade lalu? Model tersebut tidak sampai meramalkan sejauh itu.
Lantas siapa juara Piala Dunia tahun ini?
Statistik Joachim memprediksi timnas Belanda yang akan menjadi kampiun untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia.
Baca juga:
Bagi Joachim Klement, yang menyebut dirinya sebagai seorang "pesimis", permodelan buatannya tidak pernah dimaksudkan untuk menang besar dalam taruhan.
Sebaliknya, dia justru berharap untuk menunjukkan absurditas dalam mencoba memprediksi hasil.
"Ini dimulai sebagai latihan untuk menunjukkan kepada dunia kesombongan para ekonom yang berpikir mereka bisa meramalkan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka pahami," kata Klement.
"Namun, jika Anda cukup sering beruntung, orang-orang akan menganggap Anda sebagai seorang peramal."
'Orang-orang pikir permodelan ini tak terkalahkan'
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Setelah Joachim secara jitu memprediksi negara asalnya, Jerman, memenangkan Piala Dunia 2014, dia membayangkan perhitungannya pada Piala Dunia 2018 akan membuktikan bahwa perkiraan dia hanyalah kebetulan semata.
Namun dia kembali jitu memprediksi kemenangan Prancis pada Piala Dunia 2018, lalu kesuksesan Argentina pada Piala Dunia 2022.
"Karena saya benar tiga kali berturut-turut, orang-orang kini berpikir bahwa permodelan [buatan saya] tidak terkalahkan dan bahwa saya akan benar lagi pada kesempatan berikutnya," katanya.
Memang benar bahwa keberhasilan suatu negara meraih Piala Dunia sebagian ditentukan oleh faktor "sistemik", seperti jumlah penduduk, kekayaan, iklim, dan peringkat dalam FIFA.
Namun Joachim Klement mendesak publik untuk bersikap kritis dan hati-hati pada prediksinya, karena faktor-faktor tersebut hanya bisa menjelaskan sebagian dari kesuksesan sebuah negara.
"Separuh lainnya adalah keberuntungan," tambahnya.
"Setiap pertandingan—terutama ketika tim-tim berkualitas tinggi saling berhadapan dengan kemampuan dan kualitas yang sangat mirip—sangat bergantung pada performa hari itu, keputusan wasit, atau sedikit keberuntungan seperti bola membentur tiang atau masuk ke gawang.
"Hal-hal seperti itu sama sekali tidak dapat diprediksi."
'Pengalihan dari semua hal buruk'
Setiap kali turnamen Piala Dunia mendekat, permodelan buatan Joachim Klement menawarkan pengalihan yang menyenangkan dari kesibukannya sehari-hari.
"Khususnya pada 2026, ketika ada begitu banyak krisis, perang, dan berbagai hal yang terjadi, ini adalah sesuatu yang membuat saya merasa senang dan semoga juga membuat pembaca merasa senang serta memberi mereka sedikit pengalihan dari semua hal buruk yang terjadi di dunia."
Namun, karena Joachim sudah memprediksi juara pada tiga Piala Dunia secara akurat, beban harapan meningkat pada dirinya, yang sehari-hari bekerja sebagai ahli strategi di bank investasi Panmure Liberum.
Di kantor, Klement menghadapi pertanyaan dari sesama ekonom mengenai, misalnya, apakah cedera ACL gelandang Tottenham asal Belanda, Xavi Simons, akan memengaruhi permodelan tersebut.
Jadi, terlepas dari berbagai penyangkalan yang ia sampaikan mengenai keandalan prakiraannya, Klement bersiap menyambut kick-off turnamen pada bulan Juni.
"Saya punya beberapa rekan kerja yang memasang taruhan pada Belanda sebagai respons atas catatan yang saya publikasikan," katanya.
"Dan jika Belanda tersingkir dari Piala Dunia, saya rasa keesokan harinya saya harus bekerja dari rumah."





























