Perilaku dan siasat timnas Argentina dinilai merusak laga final Piala Dunia 2026

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Emma Smith
- Peranan, Wartawan BBC Sport
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 5 menit
Menyebut hasil pertandingan sebagai 'kemenangan bagi sepak bola' mungkin terdengar klise. Namun Anda tak akan menemukan banyak penonton netral yang tidak setuju dengan deskripsi hasil laga final Piala Dunia 2026.
Saat penyerang Spanyol, Ferran Torres, mencetak gol penentu di babak perpanjangan waktu dan Rodri mengangkat trofi setinggi-tingginya di Metlife Stadium, Amerika Serikat, Senin (20/07) dini hari, sulit membayangkan ada banyak orang yang akan bersimpati kepada Tim Nasional Argentina.
Spanyol berjaya dalam pertarungan daya tahan. Mereka mengalahkan Argentina dan meraih gelar Piala Dunia putra kedua mereka sepanjang sejarah.
Berdasarkan semua tolok ukur sepak bola—dan, menurut sebagian orang, juga dari segi moralitas—ini adalah hasil yang tepat.
"Tidak diragukan lagi bahwa tim yang tepatlah yang menang," kata mantan kapten kesebelasan Inggris, Alan Shearer di BBC One.
"Dari awal hingga akhir, Spanyol menguasai bola. Merekalah yang berusaha memainkan sepak bola, menciptakan peluang, dan menembus pertahanan lawan.
"Ini adalah hasil yang membanggakan bagi sepak bola karena cara mereka bermain. Spanyol pantas mendapatkannya," kata Shearer.

Sumber gambar, AFP via Getty Images
Spanyol menguasai bola sebesar 65%, memiliki ekspektasi gol sebesar 1,94, dan melepaskan 20 tembakan ke gawang Argentina, 11 di antaranya tepat sasaran.
Di sisi lain, kiper Spanyol, Unai Simon, mencatatkan nirbobol ketujuh dalam delapan pertandingan Piala Dunia 2026. Dia meraih penghargaan Sarung Tangan Emas sebagai kiper terbaik turnamen.
Spanyol hanya kebobolan satu gol di Piala Dunia 2026. Ini jumlah kebobolan paling sedikit di antara semua tim yang pernah meraih juara Piala Dunia.
Spanyol mengungguli Argentina dalam semua indikator
Spanyol—bahkan di dunia sepak bola internasional yang sulit diukur—jelas merupakan tim paling unggul di dunia.
Spanyol adalah juara Piala Dunia, juara Olimpiade, dan Piala Eropa. Ini belum menghitung kejuaraan dunia yang juga dimenangkan tim sepak bola perempuan mereka.
Tim sepak bola putra Spanyol kini tak terkalahkan dalam 38 pertandingan terakhir mereka di semua kompetisi. Ini adalah rekor terpanjang yang pernah dicatat oleh tim Eropa mana pun dalam sejarah.
Spanyol mengalami awal yang kurang mulus di Piala Dunia 2026 dengan hasil imbang 0-0 melawan Cape Verde. Ketika Spanyol meraih gelar juara dunia pada 2010, mereka juga gagal memenangkan pertandingan pembuka, karena kekalahan 1-0 dari Swiss pada 2010.

Sumber gambar, FIFA via Getty Images
Merujuk data lainnya, hanya ada tiga catatan sejarah di mana seorang pemain berhasil melakukan 100 umpan atau lebih dalam final Piala Dunia. Dua di antaranya adalah pemain Spanyol yang melakukannya pada laga final ini, yaitu Rodri dengan 101 umpan dan Pau Cubarsi dengan 121 umpan.
Dan bagi banyak pemain dalam skuad ini, pencapaian ini mungkin hanyalah permulaan.
Cubarsi, 19 tahun, dinobatkan sebagai pemain muda terbaik turnamen. Rekan setimnya di Barcelona, Lamine Yamal, tampaknya juga akan memiliki masa-masa terbaiknya di depan mendatang.
Pada usia 19 tahun dan enam hari, Lamine Yamal menjadi pemain termuda ketiga yang tampil di final Piala Dunia, setelah Pele pada 1958 dan Giuseppe Bergomi pada 1982. Kini, ia menjadi pemenang termuda ketiga.
Argentina gagal merusak pesta Spanyol
Argentina sering kali digambarkan sebagai tokoh antagonis dalam dunia sepak bola internasional, terutama oleh para penggemar Inggris.
Seperti yang mereka lakukan di semifinal melawan Three Lions pada Piala Dunia 2026, pada babak pertama laga final Argentina tampak lebih tertarik untuk menghalangi jalannya pertandingan daripada bermain sepak bola itu sendiri.
Leandro Paredes menjadi pengacau utama, dengan Enzo Fernandez sebagai wakilnya.
Meskipun empat pemain Argentina mendapat kartu kuning, banyak yang merasa hal itu semakin memperkuat anggapan bahwa mereka mendapat perlakuan yang lebih lunak dari wasit di turnamen ini.
Argentina melakukan total 464 operan, dibandingkan dengan 852 operan milik Spanyol.

Sumber gambar, Getty
Namun, tidak seperti Inggris, Spanyol tidak melemah di babak kedua. Seandainya mereka memenangkan pertandingan ini jauh sebelum gol Torres pada menit ke-106, mungkin tidak akan ada banyak keluhan.
Kiper Argentina, Emiliano Martinez, harus melakukan 11 penyelamatan. Ini jumlah terbanyak yang pernah dicatat oleh seorang kiper dalam final Piala Dunia.
Di sisi lain, sang juara bertahan menjadi tim pertama dalam sejarah Piala Dunia yang tidak melepaskan satu tembakan pun selama 90 menit pertandingan final. Upaya pertama mereka datang melalui Lionel Messi pada menit ke-117.
Argentina kehilangan gelar juara mereka, dan adegan-adegan yang terjadi setelah peluit akhir berbunyi membuat banyak orang merasa bahwa mereka juga telah kehilangan martabat.
'Perilaku menjijikkan'
Enzo Fernandez awalnya mendapat kartu kuning karena protes, lalu kartu kuning kedua akibat tekel terlambat yang spektakuler hingga membuat bek Spanyol, Pau Cubarsi, terpelanting.
Setelah peluit akhir berbunyi, Paredes terlibat keributan dengan para pemain Spanyol seperti Rodri, Gavi, dan Borja Iglesias.
Pemain Argentina lainnya, Nahuel Molina, juga terlihat melayangkan pukulan ke arah seorang pemain Spanyol yang sedang lewat.
"Memalukan, melihat hal-hal seperti itu setelah pertandingan usai," kata Wayne Rooney, eks bintang Timnas Inggris.
"Sudah ada yang dinobatkan sebagai juara Piala Dunia. Ini tidak pantas. Paredes seharusnya bisa lebih baik dari itu. Tidak berhenti di situ saja. Dia terus melakukannya," kata Rooney.

Sumber gambar, GES Sportfoto/Getty Images
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, berusaha membela penampilan timnya sambil meneteskan air mata dalam konferensi pers pasca-pertandingan. Namun dia mengakui bahwa tim terbaiklah yang menang.
"Meskipun mereka menguasai permainan hingga menit ke-85, saya ingin tahu apa yang akan terjadi jika kami masih memiliki 11 pemain di lapangan," katanya mengenai kartu merah yang diterima Fernandez.
"Kami berhasil bertahan hingga akhir saat pertandingan begitu terbuka, namun itu tak mungkin terjadi. Mereka pantas meraih kemenangan, itulah kenyataannya."
Argentina mungkin saja bisa membawa final Piala Dunia ini ke babak perpanjangan waktu — yang kelima dari enam final terakhir yang berlangsung sejauh itu — tetapi hal itu tidak bisa menutupi kelemahan mereka.
"Argentina sama sekali tidak bisa mengeluh tentang apa yang terjadi," kata mantan kiper Inggris Joe Hart kepada BBC One.
"Perilaku mereka menjijikkan," ujarnya.
"Menurutku, Rodri tidak perlu sampai menantang mereka, tapi kamu pasti mengerti bahwa setelah 120 menit di mana kamu sudah sangat tegang dan merasa diperlakukan tidak adil, ditambah lagi wasit terus-menerus mengkritikmu," kata Joe Hart.





























