Erupsi Gunung Anak Krakatau – Apa saja potensi dampak dan kenapa mitigasi bencana di Indonesia selalu 'reaktif'?

Krakatau

Sumber gambar, Gallo Images/Orbital Horizon/Copernicus Sentinel Data 2026

Keterangan gambar, Aktivitas Gunung Anak Krakatau terekam dalam bidikan sarelit, 15 Juli 2026
    • Penulis, Riana A Ibrahim
    • Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 12 menit

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi selama 4-6 September 2026 mengakibatkan sebaran abu vulkanik di sejumlah wilayah Jawa dan Sumatra. Berbagai dampak berpotensi terjadi mengingat turunnya abu vulkanik bisa berlangsung hingga beberapa hari ke depan.

Berdasarkan data dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi lagi pada Minggu (06/09) pukul 07.10 WIB dengan durasi 16 detik yang tercatat di seismograf.

Sebelumnya, erupsi berdurasi 30 detik terekam juga pada pukul 03.53 WIB.

Analisis citra satelit pada Minggu (06/09), pukul 08.00 WIB, pun menunjukkan ada dua klaster sebaran abu vulkanik.

Plt. Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Andri Ramdhani menjelaskan klaster pertama berkaitan dengan abu vulkanik pada ketinggian hingga 20.000 kaki yang bergerak ke arah timur laut hingga selatan, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya.

Sementara pada klaster kedua berkaitan dengan ketinggian hingga 50.000 kaki, abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia.

Jadi, apa yang mengakibatkan erupsi kali ini menimbulkan sebaran abu vulkanik yang luas? Apa pula potensi dampaknya dan bagaimana mitigasi bencana seharusnya disiapkan?

Mengapa sebaran abu vulkanik meluas pada erupsi kali ini?

Profesor klimatologi dan perubahan ikllim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, sebaran abu vulkanik yang meluas kali ini dipicu letusan piroklastik yang terjadi pada Jumat, 4 September 2026, pukul 23.00 WIB.

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Meski status Gunung Anak Krakatau sudah ditetapkan naik menjadi level III sejak 2 Juli 2026, aktivitas erupsinya yang sering terjadi saat itu masih berskala kecil dengan kolom yang rendah sehingga abu vulkaniknya hanya beredar tidak jauh dari kawasan sekitar.

"Kali ini, erupsinya besar. Daya dorongnya beda. Ketinggian kolomnya juga diestimasikan sekitar 13-17 kilometer berada persis di area atas gunungnya. Itu sudah batas atas troposfer," kata Erma saat dihubungi.

Dengan ketinggian kolom itu, arah angin juga berpengaruh pada luasnya sebaran abu vulkanik tersebut. Menurut Erma, sebagian besar abu tertiup menuju ke barat karena angin dari timur yang kuat, arahnya ke Samudera Hindia.

Sedangkan untuk abu yang sampai ke daratan, sebagian berputar di sejumlah kawasan dan turun karena pengaruh gravitasi bumi. Ada juga yang didorong angin laut yang kuat pada waktu-waktu tertentu.

"Makanya ada hujan abu. Proses ini bisa berhari-hari karena menunggu semuanya turun. Karena itu, harus dipantau terus," ucapnya.

Hentikan Instagram pesan
Izinkan konten Instagram?

Artikel ini memuat konten yang disediakan Instagram. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca Instagram kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: BBC tidak bertanggung jawab atas konten situs eksternal

Lompati Instagram pesan

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Siti Sumilah Rita Susilawati dalam jumpa pers pada Minggu (06/09) berkata serupa terkait sebaran abu dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.

Ia menambahkan, gumpalan abu vulkanik yang bergerak ke arah barat daya menuju Samudera Hindia berasal dari lapisan tinggi atau sekitar 15 kilometer di atas permukaan laut.

Sedangkan yang berada pada lapisan menengah atau sekitar enam kilometer, abu vulkanik terbawa angin ke arah timur.

Di lapisan yang sama, sisa debu halus dari fase erupsi sebelumnya juga terpantau bergerak ke arah timur menuju perairan Selat Sunda bagian selatan.

"Pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau dan arah sebaran abu vulkanik akan terus dilakukan secara berkelanjutan karena kondisi gunung masih bersifat dinamis," kata Rita.

Selain itu, Rita menyampaikan amplitudo seismik Gunung Anak Krakatau pada 6 September ini terekam mengalami penurunan signifikan. Namun, penurunan tersebut bukan berarti aktivitas Gunung Anak Krakatau telah berhenti.

"Dinamika aktivitasnya masih sangat tinggi sehingga penurunan ini belum tentu menunjukkan bahwa aktivitasnya terhenti. Masih ada kemungkinan aktivitasnya meningkat," ujar Rita.

Apa dampak bagi transportasi?

Dalam jumpa pers "Situasi Terkini Pascaerupsi Gunung Anak Krakatau" yang dilakukan lintas instansi pada Minggu (06/09), Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi mengumumkan penutupan sementara enam bandara yang terdampak abu vulkanik dengan alasan keamanan dan keselamatan penerbangan.

"Terkait dengan penerbangan, kami kemungkinan akan masih melakukan penutupan sampai empat jam ke depan per waktu sekarang," ujar Dudy.

Adapun bandara yang tidak beroperasi sementara: Bandara Radin Inten, Lampung; Bandara Soekarno-Hatta, Banten; Bandara Budiarto, Banten; Bandara Pondok Cabe, Banten; Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta; dan Bandara Husein Sastranegara, Jawa Barat.

Langkah ini diambil setelah dilakukan paper test yang menunjukkan hasil positif terdapat abu vulkanik.

Data dari PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airport, sebanyak 459 penerbangan dibatalkan sampai pada pukul 09.15 WIB seiring penutupan sementara sejumlah bandara tersebut.

Penumpang yang terdampar menunggu untuk meminta pengembalian dana setelah penerbangan terjadwal dibatalkan menyusul letusan Gunung Anak Krakatoa di bandara Soekarno-Hatta di Tangerang pada Minggu (06/09)

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Penumpang yang terdampar menunggu untuk meminta pengembalian dana setelah penerbangan terjadwal dibatalkan menyusul letusan Gunung Anak Krakatau di bandara Soekarno-Hatta di Tangerang pada Minggu (06/09)

Jumlah penerbangan yang paling banyak terdampak berada di Bandara Soekarno Hatta, yaitu 209 penerbangan dengan 22.798 penumpang.

Dudy menambahkan ada sejumlah bandara yang dijadikan alternatif dalam kondisi ini. Antara lain, Bandara Kertajati, Jawa Barat; Bandara Ahmad Yani, Jawa Tengah; dan Bandara Juanda, Jawa Timur.

Pesawat memang dilarang terbang ketika terjadi bencana gunung meletus yang menyebarkan abu vulkanik. Alasannya, abu vulkanik dan material dari letusan gunung mengandung silika yang berbentuk seperti pasir atau kuarsa.

Apabila partikel itu masuk ke turbin mesin pesawat, maka bisa menyebabkan aus atau erosi pada bilah-bilah di dalamnya. Bahkan jika menempel pada mesin, saluran udara pada turbin bisa tersumbat yang memicu mesin kehilangan tenaga dan mati.

Selain itu, abu vulkanik juga bisa mengganggu keseimbangan pesawat dan jarak pandang saat menempel di sayap pesawat dan kaca kokpit.

Ketua Umum Ikatan Pilot Indonesia, Capt Rama Noya berkata prosedur yang harus dilakukan ketika terbang dalam kondisi dekat dengan kawasan terdampak gunung meletus, maka pesawat harus dialihkan atau mendarat di bandara lain. Bahkan sebaiknya batal terbang jika tak memungkinkan ganti rute.

"Pesawat itu terbang dalam kondisi 100% aman, kalau ada 1% faktor yang membuat penerbangan tidak aman, ya tidak akan terbang."

Krakatau

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Putra M. Akbar

Keterangan gambar, Penumpang memakai masker saat berada di atas kapal feri di Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Banten, Minggu (6/9/2026). PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memastikan layanan penyeberangan pada lintasan Merak-Bakauheni masih berjalan normal.

Sementara itu, transportasi darat dan laut hingga saat ini masih beroperasi.

Jalur penyeberangan Merak-Bakauheni juga masih melayani penumpang, meski kecenderungannya terjadi penurunan karena sebagian besar membatalkan perjalanannya.

"Sehubungan dengan kondisi tersebut, operasional layanan penyeberangan pada lintasan Merak-Bakauheni hingga saat ini masih berjalan normal," kata Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Windy Andale.

PT Kereta Api Indonesia (Persero) memutuskan untuk menambah layanan pada tiga rute perjalanan dari Yogyakarta, Malang, dan Semarang menuju Jakarta. Antara lain, KA tambahan Yogyakarta-Gambir berangkat pukul 18.20 WIB, KA tambahan Malang-Gambir berangkat pukul 20.15 WIB, dan KA Semarang Tawang-Gambir berangkat pukul 20.15 WIB.

Dua perjalanan lain yakni KA Anggrek Surabaya Pasa Turi-Gambir dan KA Gumarang Surabaya Pasar Turi-Pasar Senen, ditingkatkan kapasitas penumpangnya.

Secara terpisah, warganet juga aktif membagikan tips bagi mereka yang kendaraannya terkena abu vulkanik untuk membersihkan dengan air terlebih dulu dan tidak langsung mengusap abu dengan lap kering karena partikelnya bisa menggores cat dan kaca kendaraan.

Apa dampak bagi kesehatan?

Dampak lain yang kini berpotensi menimpa warga yang areanya terkena abu vulkanik adalah persoalan kesehatan.

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Tjandra Yoga Aditama, berkata ada lima dampak kesehatan dari abu vulkanik ini. Akibat pertama umumnya berupa gangguan paru dan pernafasan.

"Orang yang terpaksa menghirup abu vulkanik dapat menyebabkan keluhan batuk, iritasi tenggorok, gangguan seperti bronkitis ("bronchitis-like illnesses"), dan juga perburukan pada mereka yang punya penyakit paru kronik seperti asma bronkiale dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)," kata Tjandra.

Akibat kedua, lanjut Tjandra, partikel padat yang ada di abu vulkanik juga dapat menyebabkan iritasi kulit dan mata sampai ke peradangan dan konjungtivitis.

Dampak ketiga, kemungkinan gangguan saluran cerna jika mengonsumsi sumber air atau makanan yang terkontaminasi abu vulkanik. Karena itu, sumber mata air dan makanan harus ditutup dengan seksama.

Dampak keempat, gas yang mungkin ada bersama abu ini —seperti sulfur dioksida dan gas lainnya— dapat menyebabkan keluhan sakit kepala, pusing dan memunculkan sesak nafas.

Terakhir, kadar abu yang terhisap sangat banyak pada keadaan ekstrem karena berada dekat dengan lokasi letusan, maka dapat memicu keadaan asfiksia yang terasa seperti tercekik. Asfiksia merupakan kondisi tubuh yang kekurangan oksigen parah dan berpotensi kehilangan kesadaran hingga kematian.

Mengutip "National Geographic Society", Tjandra berkata abu vulkanik adalah campuran dari mineral, bebatuan dan partikel kaca yang keluar waktu letusan gunung berapi. Kombinasi fisik partikelnya sangat tajam dan kandungannya bersifat korosif dan agresif.

Ukuran abu ini sangat kecil, yang berukuran kurang dari 2 mm sehingga dapat masuk ke bagian terkecil paru —yaitu alveolus— tempat terjadinya pertukaran gas untuk tubuh manusia.

Seorang pria membersihkan abu vulkanik dari kaca depan mobilnya setelah letusan Gunung Anak Krakatoa di Bogor, Jawa Barat pada Minggu (06/09)

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Seorang pria membersihkan abu vulkanik dari kaca depan mobilnya setelah letusan Gunung Anak Krakatoa di Bogor, Jawa Barat pada Minggu (06/09)

Untuk itu, Tjandra meminta pada pemerintah agar terus memperbarui informasi pada masyarakat untuk pencegahan.

Selanjutnya, masyarakat diimbau untuk menggunakan masker N95 atau KN95, terutama bagi mereka yang punya penyakit paru kronik. Bahkan saat abu cukup banyak, ia juga menganjurkan penggunaan kacamata pelindung dan baju tangan panjang selama di luar rumah.

"Kalau memang kadar abu cukup mengkhawatirkan, maka batasi aktivitas fisik berlebihan di luar ruangan. Rumah juga sebaiknya ditutup rapat agar abu tidak masuk. Apabila harus keluar rumah, maka bersihkan diri dengan baik dan pakaian juga segera dicuci bersih.

Ia juga mengingatkan, bagi penyandang penyakit kronik maka segera berkonsultasi pada dokter untuk penyesuaian obat rutin bila perlu.

"Kalau ada keluhan kesehatan maka segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan terdekat. Artinya, pemerintah perlu menyediakan pelayanan kesehatan yang mudah di akses dan memiliki fasiltas yang baik."

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin berkata akan menerbitkan surat edaran sebagai panduan bagi tenaga kesehatan serta melakukan pemantauan rutin bersama Dinas Kesehatan di daerah terdampak.

Health Emergency Operating Center di seluruh wilayah terdampak juga sudah diaktifkan untuk memonitor perkembangannya. Obat-obatan juga telah ditambah kuotanya di wilayah-wilayah yang terkena imbas.

"Kalau sudah merasa tidak enak pernapasannya, segera ke puskesmas terdekat. Kita sudah men-deploy alat-alat nebulizer dan juga oksigen konsentrator. Ada juga salep kulit, bagi yang mulai mengalami iritasi," kata Budi.

Apa dampak bagi pendidikan?

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti mengumumkan sekolah yang terkena dampak berat dari erupsi Gunung Anak Krakatau dapat menyesuaikan pembelajaran bagi para siswa-siswi. Salah satunya dengan menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

"Di daerah-daerah yang terdampak oleh erupsi Anak Gunung Krakatau dapat dilakukan penyesuaian pembelajaran yang dilakukan dengan mengacu pada nilai indeks standar pencemaran udara di daerah-daerah yang terdampak," ujar Mu'ti dalam jumpa pers.

Ia pun menyebut sejumlah daerah yang terdampak cukup berat. Antara lain, ada di Serang, Banten; Tanggamus, Lampung; Lampung Selatan dan Bandar Lampung, Lampung.

Hingga saat ini, pemerintah daerah yang sudah memastikan kegiatan belajar mengajar dilakukan secara jarak jauh adalah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengumumkan PJJ untuk semua tingkatan pendidikan, baik negeri maupun swasta. PJJ akan dimulai pada Senin (07/09) hingga waktu yang belum ditentukan sembari meninjau situasi.

"Kesehatan anak menjadi prioritas kami, karena mereka termasuk ke dalam golongan rentan."

Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, juga menerapkan kebijakan PJJ selama dua hari ke depan. Untuk seluruh kegiatan sekolah, terutama kegiatan yang dilakukan di luar ruangan termasuk olahraga dan upacara, ia meminta semua dihentikan sementara.

Krakatau

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas

Keterangan gambar, Nelayan berjalan di atas perahu saat tidak melaut di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Minggu (06/09). Menurut nelayan setempat, dalam dua hari terakhir mereka tidak melaut di perairan Selat Sunda karena terdampak abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

Secara terpisah, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengizinkan sekolah-sekolah di Jawa Barat yang terimbas abu vulkanik untuk melakukan PJJ. Untuk teknisnya, ia menyerahkan pada tiap pemerintah daerah dan sekolah masing-masing.

Sekretaris Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika tengah mempertimbangkan PJJ untuk anak sekolah.

"Kecuali kalau memang ada debu itu berkelanjutan, kalau lihat situasinya berkelanjutan gitu, debu datang terus-menerus, maka mungkin opsi (WFH dan PJJ) itu akan dipilih," kata Ajat.

Saat ini, pihaknya menginstruksikan untuk melakukan pembersihan di berbagai lokasi yang diliputi abu vulkanik.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Pandeglang, Banten, sudah mengeluarkan surat edaran yang berisi perintah untuk PJJ bagi tiap satuan pendidikan selama dua hari terhitung sejak Senin (07/09). Sedangkan, Gubernur Banten, Andra Soni, justru masih mengkaji kebijakan PJJ ini.

Apa yang membedakan erupsi kali ini dengan erupsi 2018?

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria menjelaskan erupsi "lava air mancur" berulang disertai dentuman sepanjang 4-6 September ini berbeda dengan erupsi pada Desember 2018 yang menimbulkan tsunami di wilayah Tanjung Lesung, Banten. Bahkan tidak sama dengan meletusnya Krakatau pada 1883.

"Perlu diingat tidak setiap erupsi akan memicu tsunami," kata Lana.

Pada 2018, sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau runtuh. Longsornya badan gunung itu kemudian memicu tsunami hingga 13 meter yang mengakibatkan 437 orang tewas, 14.059 luka-luka, dan 33.719 orang kehilangan tempat tinggal di Banten dan Lampung.

"Morfologi sekarang berbeda karena sebagian sudah runtuh. Berdasarkan pemetaan morfologi terbaru, tidak ada perubahan yang signfikan dibandingkan sebelumnya. Pertumbuhan tubuh Anak Krakatau ini masih relatif kecil dan tidak memicu tsunami," ungkap Lana.

Kendati demikian, pihaknya terus mengevaluas6i dan memantau perkembangan aktivitas gunung ini mengingat erupsi terakhir ini terjadi berulang dan terus menerus sehingga berpotensi pada erupsi yang lebih besar.

Anak Krakatau

Sumber gambar, STR/AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Gunung Anak Krakatau meletus pada 26 Desember 2018.

"Gempa frekuensi rendah masih terekam. Itu menunjukkan pelepasan material vulkanik. Untuk besar erupsi selanjutnya tidak bisa diprediksi secara tepat. Karena itu, evaluasi dilakukan secara berkelanjutan sesuai paramater pemantauan," ujar Lana.

"Bahaya yang paling perlu diwaspadai adalah lontaran material pijar, batuan vulkanik, abu vulkanik, dan gas vulkanik berkonsentrasi tinggi. Lontaran material ini bisa merusak dan membahayakan siapa pun yang masuk zona terlarang."

Sejauh ini, zonasi aman masih berada dalam radius tiga kilometer dengan status level III atau siaga. Namun, radius rekomendasi dapat diperluas apabila terjadi peningkatan energi atau skala erupsi secara signifikan, lontaran material mencapai jarak yang lebih jauh, terjadi peningkatan deformasi atau tekanan di dalam tubuh gunung, maupun muncul perubahan morfologi yang meningkatkan potensi ketidakstabilan.

Kepala PVMBG, Siti Sumilah Rita Susilawati, menambahkan, perluasan zona juga dapat dilakukan apabila muncul potensi aliran piroklastik atau bahaya vulkanik lainnya di luar radius yang telah ditetapkan.

Bagaimana semestinya mitigasi bencana yang tepat?

Indonesia merupakan kawasan yang masuk jalur cincin api sehingga sangat rawan terhadap letusan gunung berapi, gempa bumi, dan tsunami. Persoalannya, hal ini seolah tidak menjadi landasan bagi pemerintah untuk memiliki peta jalan mitigasi bencana yang tepat.

Pakar Klimatologi dan Perubahan Iklim BRIN, Erma Yulihastin menilai Indonesia seharusnya sudah mengikuti protokol United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR), badan resmi PBB terkait mitigasi risiko bencana di seluruh dunia.

Elemen utama adalah membentuk multi-hazard mapping atau peta yang memuat informasi dari berbagai jenis ancaman bahaya atau bencana alam dalam satu wilayah yang sama.

Pembuatan peta ini, lanjut dia, perlu dijalankan oleh semacam dewan pakar yang merupakan gabungan dari berbagai ahli, baik meteorolog, klimatolog, vulkanolog, seismolog, pakar ekologi, pakar kesehatan, hingga pakar ekonomi.

"Jadi, peta itu harus secara dinamis dimutakhirkan setidaknya enam bulan sekali. Tidak hanya memetakan bahaya dan risikonya, tapi juga dampak kesehatan yang berkaitan dengan nyawa, dampak ekologisnya, hingga economic lossnya. Ini tidak bisa masing-masing lembaga, harus jadi satu dengan orang yang kompeten karena nantinya peta ini menjadi data hulu bagi semua landasan kebijakan."

Ia pun berpendapat penanganan bencana di Indonesia saat ini masih bersifat reaktif. Hal ini terlihat dari pembentukan satuan tugas gabungan atau task force yang baru diinisiasi tiap ada bencana.

Padahal semestinya, kumpulan para pakar yang kompeten dalam satu wadah ini harus senantiasa ada sebagai wujud mitigasi bencana di wilayah yang rawan. Dengan demikian, pencegahan dampak di tengah kegawatdarutatan iklim ini bisa dijalankan sebelum bencananya terjadi.

"Sekali lagi, tidak bisa hanya bertumpu pada satu lembaga atau tiap lembaga bekerja masing-masing," ucapnya.

Seperti diketahui, anggaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 2026 ditetapkan sebesar Rp491 miliar. Turun 75% dibandingkan pada 2025 yang mencapai Rp2,01 triliun. Pada 2027, anggaran lembaga ini direncanakan sebesar Rp1 triliun.

Sementara itu, anggaran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk 2027 ditetapkan sebesar Rp2,52 triliun. Padahal, kebutuhannya berdasarkan rencana strategis yang disusun sebesar Rp4,65 triliun . Artinya, ada kekurangan Rp2,12 triliun yang semula ditujukan untuk pemeliharaan alat dan penguatan sistem peringatan dini.

Anggaran untuk Badan Geologi yang menaungi PVMBG pada 2026 tercatat Rp1,82 triliun tapi menurun pada 2027 menjadi Rp774,8 miliar. Namun, anggaran Badan Geologi ini tidak semua diperuntukkan bagi PVMBG. Sebagian besar justru digunakan untuk studi kajian migas dan eksplorasinya.

Mengutip World Economic Forum, Jepang yang memiliki karakteristik wilayah rawan bencana seperti Indonesia menjadi contoh di dunia terkait mitigasi bencana. Lewat Badan Meteorologi Jepang (JMA), segala hal terkait kebencanaan dideteksi dan dipantau dengan sangat teliti.

Pengalaman Jepang menghadapi berbagai bencana menjadi kesempatan untuk terus mengembangkan teknologi dan sistem peringatan dininya. Selain itu, Jepang juga membangun masyarakat lebih sadar pada situasi kebencanaan.

Terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau, JMA bahkan lebih cepat memperbarui informasi dan terus menerus mengabarkan pada warganya melalui televisi dan kanal informasi lainnya.

Selain mengingat momen 1883, peristiwa letusan gunung di Tonga pada 2022 yang mengakibatkan tsunami juga menghantam Jepang menjadi pengalaman sehingga erupsi Gunung Anak Krakatau pun dipantau seksama.

Jepang baru mengakhiri pantauannya pada 5 September siang ketika tidak ada gejala tsunami yang berpotensi sampai ke pesisirnya. Satelit Himawari-9 milik Jepang juga turut membantu menangkap keadaan dalam bentuk citra satelit.

BMKG sudah memanfaatkan Himawari-9 ini selama beberapa tahun ini berkaitan citra satelit.

Selain Jepang, Australia juga cukup aktif memonitor pergerakan Gunung Anak Krakatau, termasuk memberikan informasi terkait penerbangan sebagai bentuk mitigasi bencana.