Piala Dunia 2026: Siapa yang menang dan siapa yang kalah dari sisi keuangan?

Sumber gambar, PA Media / Getty Images
- Penulis, Michael Race
- Peranan, Reporter bidang bisnis
- Melaporkan dari, New York
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 9 menit
Perhelatan Piala Dunia kali ini lebih besar daripada turnamen sebelumnya. Makin banyak negara yang ikut, pertandingan pun bertambah. Itu artinya jumlah penonton yang menyaksikan turnamen kian banyak dan makin besar pula peluang meraup keuntungan.
Saat para bintang sepak bola dunia menciptakan momen-momen bersejarah di lapangan, miliaran dolar dihasilkan di luar lapangan.
Namun, tidak semua orang meraup keuntungan besar, ada pula yang mengalami kerugian finansial.
FIFA - menang banyak
Jumlah uang yang diraup federasi sepak bola dunia (FIFA) dari Piala Dunia sungguh luar biasa.
FIFA menghasilkan rekor Rp136 triliun dari Piala Dunia 2022 di Qatar. Pada Piala Dunia 2026 di AS, Kanada, dan Meksiko, jumlahnya diperkirakan akan melampaui angka tersebut.
Marion Laboure, ahli strategi senior di Deutsche Bank Research, mengatakan FIFA "tanpa diragukan lagi" adalah pemenang utama dengan pendapatan mendekati Rp233 triliun.

Sumber gambar, Reuters
Pendapatan FIFA berasal dari penjualan hak siar, lisensi, dan layanan perhotelan, kesepakatan sponsor, serta penjualan tiket.
"FIFA juga merambah pasar sekunder melalui platform resale resminya, dengan memungut biaya sebesar 15% dari pembeli dan penjual," tambah Laboure.
Kita patut memproyeksikan hal serupa pada turnamen-turnamen mendatang, mengingat FIFA sedang mempertimbangkan untuk memperbanyak jumlah peserta turnamen menjadi 64 tim, yang mungkin mencakup negara-negara seperti China dan India—serta miliaran penduduknya.
Penonton di stadion - kalah
Turnamen kali ini cukup menguras kantong penonton yang menyaksikan pertandingan di stadion.
Besarnya biaya yang harus dikeluarkan hanya untuk membeli tiket, serta kritik terhadap strategi harga dinamis FIFA yang menaikkan harga saat permintaan tinggi, telah banyak diberitakan.
Bahkan Presiden AS Donald Trump mengaku "tidak akan membayar" ketika ditanya kemungkinan harga tiket sebesar Rp18 juta untuk pertandingan pembuka negaranya melawan Paraguay.
Harga tiket final di Stadion MetLife, New Jersey, secara resmi ditawarkan sebesar Rp590 juta. Namun, beberapa tiket yang dijual kembali ditawarkan seharga lebih dari Rp35,8 miliar.

Sumber gambar, Getty Images
Presiden FIFA, Gianni Infantino, mendukung harga tiket tersebut dengan dalih bahwa nilainya setara dengan acara olahraga lain di AS.
Selain tiket, para penonton juga harus menanggung beban biaya penerbangan, makanan, dan akomodasi.
Salah satu contoh yang menjadi sorotan media adalah kenaikan harga tiket kereta New Jersey Transit.
Perjalanan kereta selama 30 menit ke Stadion MetLife naik menjadi Rp2,7 juta untuk turnamen tersebut. Padahal tarif normal pulang-pergi sebesar Rp235.000.
Protes keras dari publik menyebabkan harga diturunkan, namun tetap lebih tinggi dari biasanya.
Stasiun penyiaran dan sponsor - menang
Meski stasiun televisi harus mengeluarkan biaya besar untuk menyiarkan turnamen ini, namun banyaknya jumlah penonton dan minat sponsor membuat mereka berpeluang meraup keuntungan besar dari penjualan iklan.
FIFA menerapkan aturan jeda minum yang sempat ramai dibicarakan pada Piala Dunia ini. Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengatakan kebijakan tersebut "murni untuk kepentingan pertandingan" dan tidak memberi tambahan pemasukan bagi FIFA.
Namun, jeda sekitar tiga menit bagi pemain untuk minum ternyata membuka peluang bisnis baru bagi stasiun televisi dan sponsor.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Fox Sports, yang dilaporkan membayar sekitar Rp8,67 triliun untuk mendapatkan hak siar Piala Dunia di Amerika Serikat, menjadikan jeda minum itu sebagai segmen yang disponsori oleh sebuah merek.
Menurut para ahli, harga rata-rata iklan berdurasi 30 detik saat siaran Piala Dunia di Fox berkisar antara Rp3,58 miliar hingga Rp5,37 miliar. Saat pertandingan timnas Amerika Serikat pada fase-fase akhir turnamen, tarifnya bahkan bisa mencapai Rp13,41 miliar.
"Jeda minum pada dasarnya adalah ruang tambahan untuk menayangkan iklan. Saya sangat terkejut jika kebijakan ini dihapus. Format turnamen yang diperluas akan tetap dipertahankan karena skala besar kini menjadi bagian dari model bisnis FIFA," kata Laboure dari Deutsche Bank Research.
Penggemar sepak bola di UK yang menonton pertandingan melalui BBC atau ITV tidak melihat iklan saat jeda minum. BBC tidak menayangkan iklan sama sekali, sementara ITV dibatasi oleh aturan regulator mengenai jumlah iklan yang boleh ditayangkan dalam satu periode siaran 60 menit.
Sponsor resmi Piala Dunia membayar biaya fantastis agar merek mereka dikaitkan dengan turnamen tersebut. Namun, investasi itu diyakini memberikan keuntungan yang sepadan.
Oleh karena itu, logo dan produk dari merek seperti Adidas dan Coca-Cola terlihat hampir di seluruh area penyelenggaraan pertandingan.
Adidas, misalnya, sedang bersaing ketat dengan rival utamanya, Nike, dalam memperebutkan perhatian penggemar sepak bola.
Perusahaan asal Jerman itu dikabarkan menghabiskan sekitar Rp1,2 triliun untuk iklan bertajuk Backyard Legends yang menampilkan bintang-bintang seperti Lamine Yamal, Jude Bellingham, dan Lionel Messi.
Namun, bukan hanya sponsor resmi yang mendapatkan keuntungan. Sejumlah merek yang tidak menjadi sponsor resmi FIFA juga ikut mendapat sorotan.
Salah satu contohnya adalah logo Levi's di luar Stadion Levi's di San Francisco yang ditutup atau disamarkan oleh FIFA agar tidak terlihat dalam siaran dan materi resmi. Ironisnya, langkah tersebut justru menarik perhatian publik terhadap merek tersebut.
David Beckham - menang

Sumber gambar, Getty Images
Iklan utama Adidas juga menampilkan versi AI dari Sir David Beckham—yang, jujur saja, mungkin tidak sempat hadir secara langsung dalam proses syuting.
Atlet miliarder pertama asal Inggris ini telah tampil dalam begitu banyak iklan, mulai dari Home Depot hingga Bank of America. Oleh karena itu, sangat wajar jika Anda lupa merek apa sebenarnya yang dia wakili.
Meskipun sudah gantung sepatu lebih dari satu dekade lalu, Beckham tetap menjadi ikon sepak bola AS. Inter Miami, klub sepakbola AS yang ia miliki bersama, diperkirakan menjadi waralaba paling berharga di Major League Soccer senilai Rp26 triliun.
Dia mungkin tidak berhasil memenangkan Piala Dunia di lapangan, tetapi bisa dibilang ia telah memenangkan "pertandingan komersial" di luar lapangan.
Tuan rumah - kalah
Ke-16 kota tuan rumah di seluruh AS, Kanada, dan Meksiko telah menyambut kedatangan gelombang penggemar dan wisatawan yang menggerakkan sektor perhotelan, akomodasi, dan usaha lokal.
Namun, meski para pendukung Skotlandia menghabiskan persediaan minuman di Boston dan telah merebut hati kota serta penduduknya, para ahli mengatakan manfaat ekonomi jangka panjangnya sangat minim.

Sumber gambar, Getty Images
FIFA memperkirakan putaran uang secara global di perhelatan Piala Dunia mencapai sekitar Rp733 triliun. Sebanyak Rp304 triliun di antaranya akan mendongkrak perekonomian AS. Perhelatan akbar ini juga menciptakan 185.000 lapangan kerja, sebagian besar di sektor perhotelan dan akomodasi
Namun, Alexander Budzier, seorang peneliti di bidang praktik manajemen di Universitas Oxford dan kepala eksekutif perusahaan manajemen proyek Oxford Global Projects, mengatakan manfaat ekonomi jangka panjang dari menjadi tuan rumah acara olahraga sebesar itu tidak akan terwujud.
Kota-kota tuan rumah justru biasanya mengalami penurunan jumlah pengunjung yang signifikan, katanya. Hal ini karena banyak orang berusaha menghindari kekacauan selama turnamen.
Dan meskipun mungkin terjadi lonjakan perekrutan tenaga kerja, ia berpendapat hal itu biasanya hanya terjadi pada pekerjaan dengan upah rendah di sektor perhotelan.
"Ini memang menciptakan lapangan kerja, tetapi tidak menciptakan kekayaan," katanya.
Data resmi menunjukkan perekrutan tenaga kerja di pub, bar, dan restoran di AS meningkat pesat menjelang turnamen pada Mei, namun lonjakan tersebut tidak berlangsung lama.
Satu-satunya manfaat ekonomi yang "berarti", menurut Budzier, adalah proyek-proyek regenerasi yang dapat dilakukan, seperti pembangunan kembali perumahan yang dibangun di Stratford, London, setelah Olimpiade 2012.
Namun, karena sebagian besar Piala Dunia ini menggunakan stadion, hotel, kompleks latihan, dan infrastruktur perjalanan yang sudah ada, "tidak akan ada manfaat ekonomi dari pembangunan".
Bisnis perhotelan - kalah
Pemesanan kamar-kamar hotel yang diharapkan tinggi, ternyata tidak terwujud. Industri perhotelan melaporkan jumlah pemesanan di kota-kota tuan rumah tahun ini justru lebih rendah dibandingkan tahun lalu.
Asosiasi Hotel British Columbia menyatakan, meskipun angka pemesanan akhir belum dikonfirmasi, bulan Juni dan Juli "jauh tertinggal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya", meskipun Vancouver menjadi tuan rumah tujuh pertandingan di Kanada.
Asosiasi tersebut menyatakan, turnamen "tidak menghasilkan 40 hari hotel-hotel terisi penuh". Angka pemesanan kamar hanya tinggi pada tanggal-tanggal tertentu.
Bagi para pengelola hotel di Amerika, antusiasme menjelang turnamen juga tidak membuahkan hasil.
Asosiasi Hotel dan Akomodasi Amerika (AHLA) menuduh FIFA memesan terlalu banyak kamar secara massal untuk keperluan sendiri dan menciptakan permintaan palsu. FIFA menyatakan tidak mengakui tuduhan tersebut.
Laboure dari Deutsche Bank Research mengatakan hal serupa terjadi di Prancis pada 1998 ketika permintaan tidak sesuai dengan ekspektasi.
"Pada April, 80% operator hotel di AS menyatakan pemesanan berada di bawah perkiraan awal mereka - dua pertiga pengelola hotel di New York melaporkan pemesanan yang lebih rendah dari yang diharapkan. Dan di Seattle hampir 80% di antaranya melaporkan hal serupa, dengan banyak yang menyebut turnamen tersebut sebagai 'non-event'," katanya.
Industri judi - menang
Piala Dunia 2026 diprediksi akan menjadi ajang perjudian terbesar sepanjang masa, dengan perkiraan total taruhan mencapai Rp894 triliun—sekitar Rp9 triliun per pertandingan, menurut perusahaan jasa keuangan Macquarie, yang memiliki kepentingan di industri perjudian.
Perusahaan tersebut menyatakan jumlah fantastis perputaran uang pada perjudian ini terutama disebabkan penambahan jumlah tim, yang berarti akan ada lebih dari 100 pertandingan yang digelar. Angkanya naik dari 64 pertandingan pada 2022.
Flutter Entertainment, yang memiliki Paddy Power, Betfair, dan Sky Bet, memperkirakan jumlah taruhan yang dipasang akan dua kali lipat dari turnamen sebelumnya karena pertumbuhan di AS dan juga Brasil.
Chad Beynon, seorang analis di Macquarie, mengatakan taruhan langsung (in-play) telah menggantikan taruhan pra-pertandingan yang lebih tradisional.
"Sekarang yang penting adalah merespons apa yang terjadi di lapangan dan menyesuaikan prediksi selama pertandingan berlangsung. Dulu, orang hanya bisa menunggu dan menonton karena taruhan harus dipasang sebelum pertandingan dimulai," katanya.
Industri taruhan olahraga di AS tergolong relatif baru. Sampai 2018, taruhan olahraga hanya legal di negara bagian Nevada, yang menjadi lokasi kota Las Vegas.
Namun, putusan Mahkamah Agung AS kemudian membuka jalan bagi banyak negara bagian lain untuk melegalkan praktik tersebut.
Meski demikian, taruhan olahraga masih ilegal di beberapa negara bagian, termasuk California dan Texas.
Di wilayah-wilayah tersebut, banyak orang beralih ke pasar prediksi (prediction markets), yaitu platform tempat pengguna bertaruh pada hasil suatu peristiwa.
Industri yang bernilai miliaran dolar ini berkembang pesat, terutama di kalangan pria muda.
Karena tidak dikategorikan sebagai perjudian, pasar prediksi dapat digunakan untuk memasang taruhan pada pertandingan olahraga, terlepas dari negara bagian tempat seseorang tinggal.





























