Apa itu Cicada, varian baru Covid-19?

    • Penulis, Kate Bowie
    • Peranan, Kesehatan Global, BBC World Service
  • Waktu membaca: 5 menit

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tengah memantau galur Covid-19 yang sangat bermutasi, dan hingga kini telah terdeteksi di lebih dari 23 negara.

Kasus varian Cicada—yang secara resmi dikenal sebagai BA.3.2—tercatat di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Hong Kong, Mozambik, dan UK.

Meski belum ada bukti bahwa varian ini lebih berbahaya dibandingkan galur lain, para ahli menekankan bahwa anak-anak lebih rentan terhadap Cicada (baca: sikada) dibanding orang dewasa.

Perlukah kita khawatir terhadap varian baru ini?

Apa itu varian Cicada?

Varian BA.3.2 atau Cicada ini terdeteksi pertama kali di Afrika Selatan pada November 2024. Namun, kasusnya baru merebak pada September 2025.

Varian ini dijuluki Cicada karena kehadirannya mirip dengan serangga cicada atau tonggeret yang suka hidup di bawah tanah untuk jangka waktu lama seolah bersembunyi padahal aktif bekerja.

Bulan lalu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengumumkan kemunculan kasus varian ini di 25 negara bagian.

CDC menyatakan BA.3.2 terdeteksi dalam hasil tes swab hidung milik empat turis, sampel klinis dari lima pasien, dan 132 sampel air limbah.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyatakan varian ini tengah di bawah "pemantauan". Artinya, varian ini "mungkin memerlukan perhatian prioritas", dan sedang diselidiki apakah varian tersebut menimbulkan ancaman bagi kesehatan masyarakat global.

Apakah anak-anak lebih mungkin tertular?

Mengacu pada analisis data kasus di New York oleh peneliti varian Covid, Ryan Hisner, hasilnya menunjukkan anak-anak lebih berpotensi terpapar dan positif BA.3.2 dibandingkan orang dewasa.

"Ini belum ditinjau oleh sejawat atau bahkan dipublikasikan, tapi tampaknya memang benar," kata Prof Ravindra Gupta dari Cambridge Institute of Therapeutic Immunology and Infectious Diseases.

Ada berbagai teori mengenai hal ini. Salah satunya terkait sistem kekebalan masyarakat yang masih sulit mengenali Cicada mengingat varian ini belum pernah ada atau tersebar sebelumnya.

"Anak-anak secara umum memiliki kekebalan yang lebih rendah dibandingkan orang dewasa karena mereka belum terpapar banyak virus, termasuk infeksi Covid. Karena itu, Anda mungkin mengira kekebalan anak-anak ini terhadap virus ini lebih lemah," kata Gupta.

Baca juga:

Pada orang dewasa, kelenjar yang memproduksi antibodi untuk melindungi diri dari virus berkembang selama bertahun-tahun sehingga membantu meningkatkan kekebalan tubuh kita.

"Anak-anak baru menjalani proses berkembangnya kelenjar tersebut selama beberapa tahun saja, sehingga hal itu mungkin menjadi salah satu alasan mengapa mereka lebih rentan terhadap virus ini," tambahnya.

Para peneliti lain berpendapat protein yang mengalami mutasi tinggi pada varian Cicada mungkin berperan terhadap infeksi pada anak-anak.

Gupta dan timnya sedang mencari sampel dari anak-anak untuk melakukan penelitian lebih lanjut agar dapat diketahui alasan varian ini lebih banyak berdampak pada anak-anak.

Apa saja gejalanya?

Saat ini, belum ada bukti bahwa varian Cicada menyebabkan penyakit yang lebih parah daripada varian virus lainnya.

"Juga tidak ada gejala spesifik yang tampaknya lebih sering muncul," tambah Prof. Paul Hunter, ahli epidemiologi dari University of East Anglia di Inggris.

Covid-19 dapat memicu gejala, seperti demam, batuk, sakit tenggorokan, hidung tersumbat, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, sesak napas, dan diare.

"Virus ini menyerang sel yang sama terlepas dari variannya. Oleh karena itu, gejala yang Anda alami kurang lebih sama," jelas Ian Jones, ahli virologi di University of Reading di Inggris.

Mengapa mutasinya sangat tinggi?

Semua virus bermutasi seiring waktu – dan virus RNA seperti Covid-19 bermutasi dengan sangat cepat.

CDC AS telah menggambarkan BA.3.2 sebagai "sangat berbeda". Ini berarti varian tersebut tidak sama seperti galur Omicron asli.

Mutasi-mutasi ini dapat mencegah sistem kekebalan tubuh untuk mengenali virus, dan "hingga batas tertentu" memungkinkan virus tersebut menghindar dari kekebalan yang telah dibangun, kata Jones.

"Virus ini jelas berhasil. Ia sukses menghindari antibodi dalam populasi sehingga penyebarannya perlahan meningkat," ujar Jones.

Apakah vaksin masih akan bekerja?

Vaksin Covid sepertinya kurang efektif dalam melindungi dari varian Cicada karena mutasinya yang tinggi tersebut.

Akan tetapi, para ahli menekankan bahwa vaksin sebelumnya masih dapat memberikan perlindungan terhadap varian baru ini.

"Anda mungkin terinfeksi, tetapi hanya akan mengalami infeksi ringan," jelas Jones.

Baca juga:

Hingga saat ini, sebanyak 67% dari total populasi telah divaksinasi Covid-19, menurut WHO.

Namun, akses ke vaksin "booster" terbaru, yang telah dimodifikasi untuk melindungi dari galur yang paling anyar, belum merata secara global.

Perusahaan farmasi kemungkinan hanya akan mengembangkan vaksin versi baru yang secara khusus menargetkan Cicada, jika jumlah dan tingkat keparahan kasus meningkat secara drastis, jelas Jones.

Haruskah kita khawatir?

"Kita akan terus melihat varian baru dari virus ini selama manusia masih menghuni planet ini. Kecil kemungkinan SARS‑CoV‑2 akan pernah benar-benar punah," ujar ahli epidemiologi Hunter.

Fakta bahwa kasus varian Cicada meningkat, tidak bisa diartikan bahwa jumlah total kasus Covid‑19 atau kematian juga akan meningkat, katanya.

"Varian akan muncul secara teratur dan berkontribusi pada gelombang infeksi. Namun, angka kematian dan penyakit berat kemungkinan justru menurun," ungkapnya.

Pada Desember, WHO menyatakan tidak ada data yang menunjukkan peningkatan tingkat keparahan, rawat inap, atau kematian yang terkait dengan Cicada. Lembaga ini juga berkata varian ini menimbulkan risiko kesehatan masyarakat yang rendah.

"(Covid‑19) kini menjadi salah satu infeksi pernapasan musiman kita dan orang hanya perlu menyadarinya," kata Jones.

"Jika mereka merasa akan mendapat manfaat dari vaksin, maka sebaiknya mengambilnya."

Namun, kelompok rentan seperti lansia berusia di atas 65 tahun, individu dengan sistem kekebalan terganggu, dan mereka yang memiliki kondisi kronis, berpotensi mengalami sakit parah akibat infeksi Covid‑19.

"Mencari bantuan medis sejak dini penting jika anak Anda memiliki penyakit paru-paru, penyakit jantung, atau defisiensi kekebalan," kata Gupta.

"Namun, bagi sebagian besar anak yang sehat, infeksi ini seharusnya dapat sembuh dengan sendirinya," tuturnya.