'David da Vinci', anak jenius Meksiko dengan IQ lebih tinggi dari Einstein

Sumber gambar, Marcos González Díaz
- Penulis, Marcos González Díaz
- Peranan, BBC News Mundo
- Melaporkan dari, Ciudad de México
- Waktu membaca: 6 menit
David Camacho kemungkinan besar tidak menyukai judul dalam artikel ini.
Pertama, karena ia tidak menyebut dirinya dengan julukan "anak jenius", meskipun IQ-nya mencapai 162—jauh di atas angka 130 yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai batas minimal untuk mengategorikan seseorang dengan kemampuan tinggi atau kecerdasan luar biasa.
"Para jenius itu sudah ada di makam. Jika mereka jenius, itu karena mereka melakukan hal-hal yang luar biasa," katanya dengan rendah hati kepada BBC Mundo.
Kedua, dia mengaku tidak terlalu suka dibandingkan dengan sosok-sosok brilian lain seperti fisikawan Stephen Hawking atau Albert Einstein, yang diperkirakan memiliki IQ sekitar 160.
"Saya berusia 10 tahun dan baru mulai. Mungkin saya akan menjadi jenius ketika berusia 70 tahun, tetapi saat sudah melakukan hal-hal luar biasa dalam hidup, bukan?" katanya sambil tersenyum lebar.

Sumber gambar, Dokumen pribadi
David mengatakan ada satu sosok yang benar-benar menginspirasinya. Dia bahkan meminjam nama belakang sosok itu untuk media sosial: "David da Vinci".
"Guru saya di taman kanak-kanak sering bercerita tentang Leonardo da Vinci dan bagaimana dia adalah seorang polimata: seseorang yang menggabungkan sains, teknologi, rekayasa, matematika, seni, humaniora… sedikit dari segalanya," kenangnya.
"Saya sangat terkesan dengan kisahnya dan kemudian saya berkata: 'Saya ingin menjadi seperti dia', untuk melakukan hal-hal besar."
Saat ini, David tampaknya tidak salah arah menuju impian itu.
Dari NASA hingga menulis bukunya sendiri
Selalu tersenyum, fasih berbicara, dan dengan perkataan yang tertata rapi, David dengan santai menuturkan pengalamannya menyampaikan ceramah di universitas dan kepada organisasi internasional. Dia juga membeberkan rencananya untuk menerbitkan sebuah buku.
Baca juga:
Yang paling berkesan baginya adalah "kesempatan luar biasa" untuk mendatangi markas NASA di Houston dan mengikuti program pelatihan antariksa. Ke sanalah masa depannya mungkin mengarah.
"Saya ingin melakukan operasi bedah pertama di luar angkasa. Membuat SpaceX berikutnya, menjadi Elon Musk berikutnya, kira-kira seperti itu. Menggabungkan semuanya dengan bisnis, dengan humaniora… kehidupan saya terbuka di depan!" katanya.

Sumber gambar, NASA
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Saat ini, David belajar di sebuah sekolah internasional daring yang akan memberinya sertifikat untuk bisa masuk universitas. Dia berbicara dalam bahasa Spanyol, Inggris, Prancis, dan Jerman, dan baru mulai belajar bahasa Rusia, Portugis, serta Italia.
Baca juga:
Ia mengatakan bahwa memiliki IQ setinggi itu adalah "sebuah kebanggaan" dan bahwa hal yang paling ia sukai dari menjadi anak dengan kemampuan tinggi adalah bisa memahami sesuatu dengan cepat dan belajar lebih cepat.
"Tidak banyak orang yang terlahir dengan ini, jadi saya ingin menggunakannya untuk kepentingan anak-anak dan kesejahteraan umat manusia, meninggalkan jejak saya," ujarnya.
Namun, menurutnya, banyak orang punya ekspektasi tinggi terhadap anak jenius.
"Banyak orang berpikir bahwa kami harus tahu segalanya, tetapi kami bukan peramal, kami perlu diajari. Itu tidak berarti kami memiliki semua jawaban atas alam semesta."
Ia menambahkan sambil tertawa: "Sering kali saya ditantang, dengan berkata: 'Kalau kamu anak jenius, sebutkan akar kuadrat dari entah apa, kalikan dengan sekian…'. Tunggu dulu, kalau saya belum mempelajarinya, saya tidak akan tahu."
Bullying jadi peluang wirausaha
Ibu David, Claudia Flores, mengingat petunjuk-petunjuk awal yang membuatnya berpikir bahwa ada sesuatu yang istimewa pada diri David.
"Kami menempuh perjalanan darat yang panjang dan dia hafal sekitar 40 lagu anak-anak. Kami memasukkannya ke sekolah dan dia bahagia selama 15 hari, tetapi setelah itu dia berkata kepada saya: 'Pindahkan aku ke kelas anak-anak yang lebih besar, aku ingin belajar lebih banyak'," kata Claudia kepada BBC Mundo.
"Saya sangat bosan," timpal David.
Namun, momen yang menentukan muncul saat pandemi Covid-19.
Claudia duduk di samping David saat ia mengikuti kelas daring dan menyadari bahwa putranya belajar jauh lebih cepat dibandingkan anak-anak lain.
"Saya bertanya sampai angka berapa dia bisa menghitung dan kami menghitung hingga jutaan. Jadi saya mulai menyelidiki apakah dia anak dengan kemampuan tinggi, dan para spesialis memberi tahu kami bagaimana menanganinya," kata Claudia.

Sumber gambar, Marcos González Díaz
Namun, terlepas dari semua pencapaiannya, perjalanan hingga ke titik ini tidaklah mudah bagi David.
Baca juga:
David mengaku mengalami bullying atau perundungan yang "sangat berat" di sekolah yang ia anggap sebagai sekolah impiannya.
"Anak-anak lain tidak mengerti mengapa seseorang yang baru masuk sekolah bisa tahu lebih banyak hal daripada mereka, atau bagaimana saya bisa melakukan begitu banyak hal. Cara mereka mengekspresikannya adalah dengan melakukan perundungan terhadap saya," jelasnya.
Baru-baru ini, David memutuskan untuk memanfaatkan pengalaman buruk itu untuk mengembangkan Macayos, sebuah aplikasi yang akan tersedia tahun ini.
David mendefinisikannya sebagai "platform digital pertama di Meksiko yang dibuat dengan kecerdasan buatan, yang secara menyenangkan mengajarkan anak-anak keterampilan untuk mengelola emosi mereka".

Sumber gambar, NASA
Kepada mereka yang merundung anak-anak seperti dirinya, David memohon agar mereka bersikap empati dan berteman dengan siapapun. "Kami bukan alien: kami memiliki kemampuan tinggi, tetapi kami tetap anak-anak."
Faktanya, meskipun dia punya banyak teman orang dewasa karena merasa "tidak cocok" dengan banyak anak, David memastikan bahwa dirinya juga melakukan hal-hal biasa sesuai usianya, seperti bermain dengan balok-balok mainan atau pergi ke taman.
"Banyak yang berpikir saya adalah anak yang menyamar sebagai orang dewasa, tetapi saya adalah seorang anak yang melakukan hal-hal anak-anak… dan juga sebagian hal orang dewasa," paparnya.
Diagnosis anak berbakat
Diagnosis bahwa David punya kemampuan tinggi datang relatif cepat dalam hidupnya. Namun, ada banyak anak lain dianggap mengidap gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD) karena gelisah atau bosan di sekolah. Kondisi ini juga bisa disalahartikan sebagai autisme.
"Yang terjadi adalah anak itu sudah memahami apa yang sedang dijelaskan dan menginginkan sesuatu yang lebih," kata Claudia, ibu David.
Baca juga:
Bahkan, menurut perkiraan yang ditangani oleh lembaga seperti Centro de Atención al Talento (CEDAT), di Meksiko diperkirakan bisa jadi ada satu juta anak berbakat. Namun, sebagian besar belum teridentifikasi dan 93% dari mereka salah didiagnosis.
"Saya yakin bahwa di Meksiko ada banyak anak seperti saya yang tidak mendapatkan dukungan maupun bimbingan. Saya sangat sedih melihat bahwa ada talenta-talenta besar yang harus pergi ke negara lain karena keluarganya tidak memiliki sumber daya atau karena di sini mereka tidak menemukan peluang," ucap David.

Sumber gambar, Marcos González Díaz
Sepanjang wawancara, David berbicara dengan sangat cepat. Ia meloncat dari satu topik ke topik lain dengan mudah dan kembali ke belakang jika merasa lupa menyebutkan sesuatu yang penting.
Claudia mengakui bahwa menjadi ibu dari anak seperti ini merupakan tantangan besar.
"Menjadi ibu dari Edgar David Camacho Flores itu sangat mudah, karena dia anak yang tenang, penuh kasih dan baik hati. Tetapi menjadi ibu dari David da Vinci itu tantangannya, karena dia bergerak cepat, berlari ke sana sini…," ujarnya.
"Saya bilang kepadanya bahwa dia punya dua tupai kecil di kepalanya. Tetapi dia bilang tidak, bahwa dia punya sebuah komputer kuantum," tutupnya sambil bercanda.





























