Prabowo ungkit lagi status pahlawan nasional Marsinah saat Hari Buruh – Mengapa aktivis pernah mempersoalkannya?

Sumber gambar, Arif Firmansyah/Antara Foto
Presiden Prabowo Subianto, dalam pidatonya pada peringatan Hari Buruh, Jumat (01/05), mengungkit lagi status pahlawan bagi aktivis buruh Marsinah. Dia juga berjanji segera meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jatim. Mengapa aktivis dan akademi pernah mempersoalkan status pahlawan Marsinah?
Pernyataan itu disampaikan Prabowo di hadapan ribuan buruh yang memadati pelataran Monumen Nasional (Monas), Jakarta.
"Kita telah mengangkat ibu Marsinah sebagai pahlawan nasional," kata Prabowo.
Prabowo kemudian berjanji kan meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur.
"Dan bulan ini juga saya akan berangkat ke Desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur, untuk meresmikan perjuangan buruh yang diberi nama Museum Marsinah," ungkapnya.
Walaupun dipertanyakan kalangan aktivis, Marsinah resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, awal November tahun lalu.
Prabowo memimpin langsung penganugerahannya di Istana Negara.

Sumber gambar, Istimewa/Detikcom
Selain Marsinah, eks Presiden Soeharto juga mendapat gelar Pahlawan Nasional—yang kemudian dikritik tajam oleh para aktivis.
Saat itu para akademisi dan aktivis menilai pemberian gelar pahlawan nasional bagi Marsinah dan Soeharto secara bersamaan sebagai "upaya transaksional dan manipulasi sejarah".
Mereka menilai kebijakan tersebut "menutup pintu keadilan" dan "menghapus dosa rezim" terhadap pelanggaran hak asasi manusia masa lalu.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Dalam wawancara dengan BBC News Indonesia pada Oktober 2025, Peneliti Institut Kajian Krisis dan Strategi Pembangunan Alternatif, Ruth Indiah Rahayu, menilai pengusulan Marsinah sebagai pahlawan nasional merupakan cara lain dari pemerintah agar publik bisa menerima pengusulan Soeharto sebagai pahlawan nasional.
Padahal, kasus pembunuhan Marsinah terjadi pada era pemerintahan Soeharto.
Pemerintah pada masa itu dituduh tidak serius dalam mengusut tuntas kasusnya.
Bahkan, pemerintah saat itu diduga terlibat dalam upaya rekayasa persidangan yang menghasilkan pembebasan para terdakwa di tingkat kasasi.
"Sekarang, [Soeharto] disandingkan dengan Marsinah. Ingat, kasus pembunuhannya belum ada keadilan, belum diakui negara.
"Kok tiba-tiba dikasih gelar kepahlawanan? Keadilannya dulu. Ini kan manipulatif, untuk membius massa, memanipulasi kesadaran massa," kata Ruth, kala itu.
Siapa Marsinah dan mengapa dia dibunuh?
Marsinah, kelahiran 10 April 1969, adalah aktivis dan buruh pabrik yang dibunuh secara sadis pada 8 Mei 1993.
Hingga 32 tahun kemudian, siapa aktor di balik pembunuhannya masih belum terungkap.
Marsinah—dia dibunuh saat berusia 24 tahun—adalah buruh di PT Catur Putra Surya (CPS), pabrik pembuat jam di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.
Semasa hidup, perempuan kelahiran Nganjuk, Jatim, ini dikenal aktif menyuarakan hak-hak kaum buruh.
Beberapa hari sebelum dibunuh, Marsinah ikut dalam aksi mogok kerja yang berlangsung pada 3-4 Mei 1993 sekaligus menjadi perwakilan buruh PT CPS bersama 23 rekan lainnya.

Sumber gambar, Wikipedia
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Melalui aksi mogok ini, para buruh menuntut upah layak, bayaran lembur, jaminan kesehatan, tunjangan hari raya, uang makan dan pesangon, hingga jaminan upah ketika cuti haid dan cuti hamil.
Kesepakatan tercapai pada hari kedua aksi mogok. Akan tetapi, sebagian buruh justru dipanggil ke Markas Kodim 0816 Sidoarjo.
Pada 5 Mei 1993, Marsinah bersama rekan-rekannya berupaya agar mereka yang dipanggil bisa dipulangkan. Mereka pulang setelah dipaksa mengundurkan diri.
Namun justru Marsinah yang tidak pernah kembali setelah terakhir terlihat pada tanggal tersebut sekitar pukul 21.30 WIB.
Jasadnya ditemukan Jasadnya ditemukan dalam kondisi mengenaskan di hutan di Dusun Jegong, Wilangan, Nganjuk, Jawa Timur, pada 9 Mei 1993. Akan tetapi, hasil visum menunjukkan waktu kematiannya terjadi sehari sebelum ditemukan.
Baca juga:
- Prabowo janji dukung Marsinah jadi pahlawan nasional di hadapan ribuan buruh – Siapa Marsinah dan mengapa dia dibunuh?
- Kontradiksi gelar pahlawan nasional untuk Marsinah dan Soeharto – 'Ini manipulasi politik dan sejarah yang luar biasa'
- Dari pembunuhan Marsinah hingga pembantaian Tanjung Priok: Ketika advokasi Munir kerap berhadapan dengan militer
Penyebab kematian Marsinah adalah akibat tusukan benda runcing. Ia diculik, disiksa, dan diperkosa hingga berujung kematian, mengacu pada visum RSUD Kabupaten Nganjuk.
Dugaan kuat, ada keterlibatan aparat TNI dalam kematiannya. Polisi yang kemudian turun tangan berspekulasi mengenai motif pembunuhan dengan berbagai macam versi. Pegiat HAM menaruh curiga terhadap arah penyelidikan polisi.
Keterkaitan dengan unjuk rasa dan pemogokan pada 3-4 Mei 1993 pun menjadi motif terkuat dari pembunuhan Marsinah. Yudi Susanto, pemilik PT CPS dijadikan tersangka dan divonis 17 tahun penjara. Namun, Yudi dibebaskan Mahkamah Agung lewat kasasi.

Sumber gambar, YASUYOSHI CHIBA/AFP
Kuasa hukum Trimoelja D. Soerjadi membongkar peradilan sesat terhadap kasus Marsinah yang mengkambinghitamkan sejumlah orang sebagai pelaku melalui rekayasa oknum Kodim.
Kasus pembunuhan Marsinah kemudian menjadi isu internasional, hingga dijadikan catatan Organisasi Buruh Internasional (ILO).
Pada 1996, tim independen dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) mengungkap beberapa bukti dalam kasus pembunuhan Marsinah.
Temuan itu menunjukkan polisi telah membuat beberapa kesalahan dalam penyelidikan, termasuk penempatan barang bukti yang salah. Salah satunya, hasil visum kedua menyimpulkan Marsinah meninggal karena tembakan.
Hingga kini, kebenaran dan keadilan bagi penerima penghargaan Yap Thiam Hien ini masih gelap.
Artikel ini akan diperbarui secara berkala.
































