'Saya bisa bunuh, karena kau hamba saya' – Perbudakan di Sumba Timur, warisan kekerasan yang dibalut budaya

Sumber gambar, Andra Anhar/BBC News Indonesia
- Penulis, Quinawaty Pasaribu
- Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 24 menit
Sumba menyimpan budaya yang tak biasa: perbudakan. Orang-orang dari kasta sosial paling rendah yang disebut ata atau hamba harus mengabdikan seluruh hidupnya beserta keturunannya untuk melayani maramba atau para bangsawan. BBC News Indonesia menemui dua perempuan korban perbudakan yang mengalami kekerasan fisik hingga seksual selama belasan tahun.
Peringatan: Artikel ini memuat rincian kekerasan seksual yang dapat mengganggu kenyamanan Anda. Identitas korban tidak kami ungkap demi alasan keamanan.
"Biarpun kau pergi ke ujung dunia, saya bisa bunuh, karena kau saya punya hamba," sepotong kalimat itu tertancap kuat di ingatan Maria.
Selama belasan tahun lamanya, ia dijadikan hamba atau budak di rumah keluarga maramba atau bangsawan Sumba.
Pada akhir Februari 2026 lalu, saya bertemu dengannya. Dia sedang mengasuh dua anak laki-lakinya.
Usia Maria masih terbilang belia, 22 tahun, tapi dari wajahnya tergurat betapa ia sudah melewati belasan tahun terberat dalam hidupnya.
"Di sana hidup seperti di neraka," cetusnya.
Semua penderitaan itu dimulai pada suatu pagi yang penuh duka.
Sebuah keluarga maramba di Kabupaten Sumba Timur, tengah menggelar upacara penguburan. Para pelayat, termasuk keluarga Maria, datang sebagai bentuk penghormatan.
Esok paginya, Maria yang masih berusia delapan tahun, diajak mandi ke sungai oleh seorang kerabat perempuan dari keluarga bangsawan itu.
Maria kecil, mengangguk.
"Tapi belum sampai di kali, dia berhenti. Saya tanya, 'Kita masih tunggu siapa?'. Dia bilang, 'Sabar saja'," tuturnya menceritakan kembali peristiwa 14 tahun silam.

Sumber gambar, Andro Saini/BBC News Indonesia
Seorang pria yang mengendarai motor lantas menghampiri Maria kecil dan perempuan itu. Laki-laki tersebut membujuknya untuk ikut jalan-jalan.
"(Laki-laki) itu bilang, 'Tidak apa-apa, kita pergi pesiar'. Tapi saya tidak mau. Terus, ada perempuan bujuk, karena dia baik, saya mau ikut naik mobil."
Maria kecil rupanya diboyong ke rumah si kerabat bangsawan.
Sesampainya di sana, Maria kecil menangis saban malam. Ia merengek minta pulang ke rumah keluarganya, namun tak dikabulkan.
Hari berganti, Maria kecil yang masih kelas 2 SD, tak tahu untuk apa dia dipaksa tinggal di sana.
Oleh keluarga itu, dia diajari cara menyapu, mencuci pakaian, memasak, sampai berladang.
Setelah dianggap bisa, Maria kecil mengerjakan semua pekerjaan rumah tersebut sembari sekolah.

Sumber gambar, Andro Saini/BBC News Indonesia
Rutinitasnya pun berubah: bangun jam 05.00 pagi, cuci piring, menyapu, masak, berangkat ke sekolah. Pulang sekolah pukul 12.00, ia kembali masak, cuci pakaian, pergi ke ladang.
Seluruh pekerjaan rumah baru betul-betul rampung malam hari.
"Saya tidak bisa tidur kalau dorang [mereka] belum makan, karena kalau tidak ada sayur saya kena pukul sudah," akunya.
"Saya pernah kena maki, tendang. Dorang [mereka] bilang, 'Kamu, saya punya hamba'," ucapnya mengulang ucapan keluarga bangsawan itu.
"Jadi saya diam saja, saya ikuti dorang [mereka] punya mau. Saya tidak bisa melawan, karena masih kecil."
Segala cacian dan kekerasan tak pernah luput barang sehari, ungkapnya.
Sampai akhirnya, Maria kecil putus sekolah—tak melanjutkan pendidikannya ke kelas 3 SD. Dia tak sanggup menanggung beban pekerjaan di rumah majikannya ditambah kena omel guru gara-gara kerap terlambat masuk sekolah.
Dikawinkan dengan budak laki-laki
Kala usianya genap 14 tahun, dunia Maria remaja runtuh sejadi-jadinya. Ia dipaksa berhubungan badan dengan seorang budak laki-laki.
Laki-laki itu, umurnya lebih tua, sekitar 30-an tahun.
Masih terekam jelas di kepalanya, ia dan lelaki tersebut diseret masuk ke dalam kamarnya. Dikurung.
"(Kami) sempat tidur satu malam, habis itu saya tidak mau lagi sama itu laki-laki..."
"Saya menangis, saya bilang 'Kalau laki-laki itu tidak keluar, saya tidak mau masuk kamar'. Dari situ, dorang [mereka] pukul saya, tendang, cekik leher saya ke dinding," ungkap Maria dengan suara bergetar.
"Dia omong, 'Kalau saya atur kamu tidak boleh melawan'."

Sumber gambar, Andro Saini/BBC News Indonesia
Sepanjang malam hingga pagi, tubuhnya terus dihajar karena dianggap membangkang. Tapi Maria balik menggertak, "Kalau dorang [kalian] paksa terus, saya gantung diri!"
Gertakan itu mempan. Ia tak lagi dipaksa tidur dengannya.
Hanya saja, selang beberapa bulan, Maria lagi-lagi dipaksa berhubungan badan dengan budak laki-laki—kali ini usianya sekitar 20-an tahun.
"Saya (pasrah), saya ikut sudah mereka punya mau. Saya diancam kasih bunuh kalau tidak mau."
"Saya dikunci di kamar. Saya sempat melawan, tapi laki-laki itu badannya lebih besar. Saya berontak, marah, tapi dia bilang hanya ikut apa kata tuannya," ucap Maria yang langsung memalingkan tatapannya.
Seingatnya, mereka dipaksa tidur sebanyak lima atau enam kali.
Hingga di usia 15 tahun, Maria remaja merasa ada yang aneh dengan tubuhnya.
"Saya rasa tidak enak badan, mual-mual, tidak dapat bulan [menstruasi]. Pasti saya hamil," katanya membatin.
Seseorang dari keluarga majikannya memberikan alat tes kehamilan, dan hasilnya positif. Tapi meskipun sedang berbadan dua, Maria tetap disuruh mengerjakan pekerjaan rumah. Bedanya dia tidak harus ke ladang.
Pada usia kehamilan sekitar 18 minggu, tuan atau majikan perempuannya mengantarnya untuk pemeriksaan USG dan ketahuan lah bahwa anak di kandungannya berjenis kelamin laki-laki.
Reaksi tuan perempuannya berubah amarah.
"Dia [majikan perempuan] marah karena tahu anak saya laki-laki. Dia maunya (anak) perempuan, supaya bisa diambil jadi hamba putrinya."
Februari 2021, Maria melahirkan anak pertamanya, laki-laki dengan berat 3,4 kilogram.
Tiga malam di rumah sakit, Maria dan bayinya pulang ke rumah.
Namun, hanya sampai sembilan bulan menyusui, bayinya diambil paksa oleh kerabat laki-laki keluarga tersebut—untuk kelak dijadikan budak.
"Karena mereka tidak punya hamba... sakit hati saya."

Sumber gambar, Andro Saini/BBC News Indonesia.
Selang dua tahun, Maria mengandung anak kedua. Ini kali tanpa paksaan alias pria pilihannya sendiri dari kalangan hamba.
Begitu tahu, keluarga si bangsawan girang. Tetapi, sekejap saja berubah saat tahu janinnya laki-laki.
November 2023, Maria pun melahirkan. Hanya setahun setelahnya, bayi itu lagi-lagi diserahkan ke kerabat lain dari keluarga tersebut.
"[Anak saya] diambil usia satu tahun, supaya berhenti minum ASI [agar tidak ingat ibunya]…"
"Saya bilang, 'Dikasih yang dekat rumah saja'. Tapi mereka marah."
Maria bercerita, tahun itu adalah masa terberat dalam hidupnya karena dipaksa tidur dengan budak laki-laki dan harus terpisah dari sang anak.
"Itu yang bikin saya marah, sakit hati. Saya masih kecil tapi dipaksa [berhubungan] dengan laki-laki, ditambah saya tidak mau malah dipukul juga..."
"Saya [diperlakukan] seperti binatang saja," akunya.
Diancam dibunuh
Setelah berpisah dengan kedua anaknya, Maria tetap dipaksa mengerjakan pekerjaan rumah tangga tanpa upah sepeser pun.
Hingga suatu hari, majikan perempuannya pulang ke rumah dan mengamuk tanpa sebab.
Ia memarahi dan memakinya tanpa henti.
Di sela-sela amarahnya yang meluap, ia berseru: "Kalau saya bunuh kamu, tidak ada yang tahu biar sampai ke ujung dunia... karena kau saya punya hamba."
"Saya tanya, 'Kenapa marah-marah? Kalau lapar tinggal minta'."

Sumber gambar, Andro Saini/BBC News Indonesia
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Sahutan Maria rupanya bikin emosi majikannya lepas kendali. Ia dipukuli, ditendang, dicaci.
Setelah reda, Maria diusir ke rumah adik iparnya yang masih dalam satu lingkungan. Sesampainya di sana, ia menceritakan apa yang terjadi dan mengapa dia dicampakkan macam binatang.
Selama beberapa hari, Maria tinggal di situ sembari berharap emosi majikannya telah padam.
"Hari Sabtu, saya datang ke rumah itu, sekalian mau ambil buku posyandu anak saya. Baru sampai pintu, dia mengusir dan pukul saya pakai kayu… terus dia tarik anak saya."
"Saya kembali ke rumah adik iparnya dan omong semua, saya disuruh sabar. Saya sakit hati sampai menangis," tuturnya.
Pikiran Maria kalut. Ia takut ancaman itu jadi kenyataan.
Pagi buta di akhir tahun 2025, dia memutuskan kabur meski tak tahu harus ke mana. Sempat terlintas di pikirannya untuk mengakhiri hidup.
Saat semua orang masih tidur pulas, Maria melarikan diri hanya berbekal pakaian di badan dan seutas tali.
Di tengah perjalanan dia melihat sebuah truk berhenti. Ia tanya kepada sang sopir hendak kemana dan apakah bisa menumpang.
Sopir itu menjawab, "bisa".
Maria lantas diturunkan di sebuah toko kelontong. Di sana, ia menunggu warung itu buka dan menanyakan sebuah nama yang dikenalnya sebagai kerabat dari ayah.
Si pemilik toko mulanya ragu, namun akhirnya menghubungi seorang perempuan paruh baya yang namanya kira-kira mirip. Tak berapa lama, keduanya bertemu. Tak ada kata-kata, hanya tatapan yang terasa asing.
"Saya mengenalkan diri, dan (tante) akhirnya kasih muat saya di motor. Di rumahnya, saya dikasih duduk dan saya ceritakan semua," ungkap Maria dengan kepala tertunduk seakan ingin lenyap dari dunia.
'Kami bukan keturunan budak'
Di rumah beralaskan tanah dan atap seng, Mbadi Lindi Prang, menatap saya dengan tajam. Pria yang bekerja sebagai petani ini sontak berkata:
"Dari nenek moyang kami, tidak pernah ada yang menjadi ata," katanya dalam bahasa Kambera.
Ata yang dimaksud artinya hamba.

Sumber gambar, Andra Anhar/BBC News Indonesia
Bapak kandung Maria ini lalu bercerita, ketika anaknya yang berusia delapan tahun itu hilang sehari setelah acara penguburan, ia bersama istri mencari ke seluruh desa selama tiga hari tiga malam.
Tapi, sisa-sia. Tak ada satupun yang tahu jejaknya. Mereka kemudian bergegas melapor ke kantor camat. "Kata pak camat, sabar dulu," ujar Mbadi menirukan jawaban camat.
Pasangan suami istri ini memutuskan membagi tugas: sang istri tetap di kantor camat, sementara dia pulang kampung untuk mencari anaknya sekali lagi.
Di tengah pencarian, ia bertemu kepala desa yang kemudian bertanya soal keberadaan istrinya.
"Saya ceritakan di kantor camat, melapor anak saya hilang. Tapi saya malah habis dipukuli karena melapor," cetusnya.
Sampai tiga bulan, tetap tak ada hasil. Tetapi, Mbadi tak menyerah. Lagi-lagi dia menanyakan kepada camat soal nasib anaknya.
"Besoknya datang kepala desa bilang bahwa anak saya pergi sekolah. Sudah itu, kepala desa dan camat tikam satu ekor sapi dan kuda…"
Dalam tradisi Sumba, tikam hewan itu artinya sang anak telah sah "dibelis" oleh keluarga kepala desa yang berasal dari kalangan maramba atau bangsawan. Sehingga Mbadi diminta tak lagi mencari putri kecilnya.
"Sudah itu saya diam, saya pikir anak saya betul disekolahkan," ucap pria berusia kepala lima ini.
Belasan tahun berlalu, Mbadi baru diberitahu anaknya Maria, kalau dia tidak disekolahkan.
Ia, dijadikan budak dan kabur dari rumah maramba tersebut. Mendengar pengakuan itu, Mbadi dan istrinya tentu saja murka.
Mereka tak terima anaknya menjadi budak. Bapak sembilan anak ini bilang, meski petani tapi dia masih sanggup menyekolahkan anak-anaknya.
"Kalau dari saya, saya mau mereka dihukum karena sudah ancam bunuh kami."
'Takdirku sebagai hamba'
Seperti Maria, perempuan 19 tahun yang saya temui di rumahnya pada akhir Februari lalu berkata kalau selama belasan tahun dia percaya bahwa takdirnya adalah seorang budak.
"Sejak kecil saya percaya kalau saya itu hamba," ucap Marta polos.

Sumber gambar, Andro Saini/BBC News Indonesia
Marta pindah ke rumah maramba atau bangsawan di Kabupaten Sumba Timur saat kelas 5 SD. Sebelumnya, ia dan adik-adik tinggal di kampung bersama oma.
Sedangkan, mamanya, sudah menetap di sana sejak berusia 15 tahun.
Ketika Marta dan tiga adiknya diboyong ke rumah itu, perlakuan Rambu kepadanya baik.
Dalam adat Sumba, Rambu merupakan panggilan kehormatan untuk perempuan dari kalangan bangsawan.
Rambu yang dimaksud Marta adalah tuan atau majikan di rumah tersebut.
Tapi, setelah lulus kelas 6 SD, sikap Rambu padanya berubah. Ia tak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke jenjang SMP dan mesti bekerja untuk keluarga tersebut.
Keluarga maramba itu, cerita Marta, punya toko grosir yang menjual pakan ternak, gas elpiji, dan hasil bumi. Saban hari, Marta kecil—yang sudah sering memerhatikan para pekerja bekerja—ditugaskan sebagai kepala gudang.
Ia diberi tanggung jawab menghitung stok barang, melayani pembeli, sampai jadi kasir.
Sementara adiknya mengantar barang pesanan orang dan mamanya mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga.
"Kata dorang (mereka), kalau perempuan cukup sudah tahu baca-tulis," ucap Marta mengulangi perkataan Rambu.
Sejak itu, keseharian Marta berubah: bangun tidur jam 06.00 pagi, mandi, bekerja di toko sampai pukul 20.00 malam, kemudian lanjut membuat pembukuan sampai tengah malam.
"Begitu terus setiap hari," cetusnya.
"Kalau salah sedikit dipukul, dimaki… sudah seperti makanan sehari-hari," akunya.
Kesalahan yang dimaksud Marta bisa apa saja. Entah keliru menghitung stok di gudang sampai kehilangan barang.
"Yang paling sering, saya dipukul dengan kabel listrik setebal jari tangan," tutur Marta sembari bilang tak berani melawan karena statusnya sebagai hamba atau budak.
Satu kalimat Rambu yang tak pernah dilupakannya: "Kalau kita kasih mati, orang luar tidak akan bisa omong, karena kamu dorang (kami) punya hak."
Dituduh mencuri, dipukuli, digunduli
Puncak kekerasan yang menimpa Marta terjadi pada Desember 2025.
Entah ada angin apa, Rambu melempar tuduhan: "Kau yang ambil uang dan gas elpiji?"
Marta buru-buru menyangkal: "Tidak, saya tidak ambil."
Jawaban tersebut rupanya tak memuaskan Rambu dan ia mengajukan pertanyaan yang sama berkali-kali. Sampai pada satu titik jengah, Marta mengiyakan tuduhan tersebut—mencuri uang ratusan juta dan puluhan tabung elpiji.
Ditambah, klaimnya, Rambu mengancam memolisikan keluarganya.
"Ya sudah biar saya tanggung akibatnya," katanya pasrah.

Sumber gambar, Andro Saini/BBC News Indonesia
Pengakuan itulah yang menjadi senjata Rambu menyiksa remaja ceria tersebut.
Di ruang tengah rumah megah tersebut, Marta bersimpuh di lantai. Sementara Rambu duduk di sofa empuknya.
Rambu, kata Marta, kemudian menyuruh adiknya mengambil kabel listrik sebesar jari tangan dan langsung menyabetnya berkali-kali.
"Saya dipukul berulang kali di tangan, punggung, paha," akunya sambil menunjuk bagian tubuhnya yang masih ada bekas memar.
"Setelah dipukul, Rambu suruh adik saya mengambil gunting, buat gunting saya punya rambut…"
"Di situ saya menangis," ucapnya yang disusul air mata. "Ini (rambut) saya punya mahkota kenapa digunting, hilang kepercayaan diri saya," sambungnya dengan suara bergetar.

Sumber gambar, Andro Saini/BBC News Indonesia
Remaja periang ini sangat merawat rambutnya yang panjang. Saking senangnya, ia mewarnai rambutnya yang lurus terurai.
Ia sempat memperlihatkan foto lama dirinya yang tersimpan di gawai miliknya, dia terlihat cantik dengan senyuman manis.
Tapi sejak kejadian itu, Marta tak berani keluar rumah. Malu, katanya. Setiap kali berjumpa dengan orang baru, dia pasti menutup kepalanya yang plontos dengan hoodie jaket.
Berbekal pengakuan tersebut, Rambu kemudian memanggil tiga pria dan membawanya ke sebuah ruang yang bersebelahan dengan kantor polres.
Dia kembali disodorkan pertanyaan yang sama: "Di mana uang dan tabung gas yang hilang?".
Namun Marta berkeras bahwa dia bukan pencuri.
Esok paginya, dia pulangkan ke rumah majikannya dengan sekujur badan yang masih lebam. Setelahnya, ia disekap dalam kamar selama dua hari.
Diancam dibunuh
Ibunda Marta mengaku sangat menyesal tidak berada di rumah ketika anaknya disiksa. Hari itu, dia sedang menjenguk orang tuanya yang sakit di kampung.
Perempuan 39 tahun ini mengatakan baru tahu apa yang terjadi, setelah Rambu meneleponnya beberapa hari setelah kejadian.
"Dorang (Rambu) tanya saya, 'Marta ada kasih kamu uang?"
"Saya bilang, 'Tidak ada'. Lalu dia bilang ke mama saya, kalau Marta sudah dibawa ke penjara karena mencuri uang."
Mendengar itu, ia langsung pulang ke rumah tuannya. Begitu tiba, dia dicecar pertanyaan yang sama bahkan dituduh "bekerja sama dengan anaknya mencuri uang".
"Saya punya air mata langsung jatuh. Bertahun-tahun saya kerja di sana, tidak pernah sampai mencuri."

Sumber gambar, Andro Saini/BBC News Indonesia
Karena tak ada titik terang, ia diminta menemui anaknya dan membujuk supaya mengaku kemana larinya uang ratusan juta tersebut.
Dan, saat melihat putrinya babak belur, ibu empat anak ini tak mampu lagi bicara.
"Saya lihat anak langsung menangis, tidak tega… sudah botak dan memar semua badan. Saya menangis kasihan sekali sama anak. Bertahun-tahun saya kerja, jaga toko, tapi dorang balas begitu sama saya punya anak."
Menyaksikan anaknya dihajar, dia menantang balik keluarga bangsawan itu dan siap pasang badan untuk putrinya. Namun, Rambu dan suaminya balas mengancam.
"Dorang (mereka) bilang, 'Kamu tunggu saya pulang, saya kasih mati semua'."
"Sepanjang malam saya menangis, saya telepon saudara, saya bilang 'Kita hanya tunggu mati saja di sini'."

Sumber gambar, Andra Anhar/BBC News Indonesia
Singkat cerita, kerabat dari ibu Marta meminta bantuan ke aktivis pemuda dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) agar membebaskan mereka dari rumah tersebut.
Proses pembebasan keluarga itu, kata Ketua GMKI Waingapu, Umbu Kudu Jangga Kadu, berlangsung dramatis dan mencekam. Ia bersama belasan rekannya dengan dikawal polisi setempat menggeruduk kediaman maramba itu persis tengah malam.
Mulanya, mereka mencoba menelpon Marta dan ibunya, berkali-kali, tapi tak ada jawaban.
Mereka lantas berteriak, memanggil Marta serta sang ibu, tetap nihil. Sampai akhirnya mereka nekat mendobrak pagar besi yang menuju toko sekaligus rumah si maramba.
Setelah berhasil masuk, nampak Marta maupun ibunya berdiri ketakutan. Tetapi, ada hal yang janggal, kata Umbu Kudu.
"Si korban ini menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan terlihat memiliki rambut. Padahal dari foto yang kami terima, si korban ini sudah dibotakin," ujarnya.
"Ternyata rambut itu wig," sambungnya.
Di tengah situasi yang disebutnya memanas, Marta dan ibunya sempat mengelak kalau mereka mendapat perlakuan kekerasan. Hanya saja, Umbu Kudu berhasil meyakinkan keduanya kalau keberadaannya untuk menyelamatkan mereka.
Setelah percaya, Marta bersama ibunya bersedia diboyong ke kantor polisi dan membuat laporan—meski belakangan laporan itu dicabut—diceritakan lah semua kekerasan tersebut.
Menjejaki silsilah keluarga
Usai peristiwa mengerikan itu berlalu, Marta juga ibunya menelusuri silsilah keluarga mereka.
Menurut pengakuan opa atau kakek dari garis ibu, dahulu omanya memang tinggal bersama keluarga bangsawan di Kabupaten Sumba Timur, sebagai hamba.
Sang kakek lalu memutuskan untuk memberikan mahar alias belis untuk dijadikan istri. Yang artinya, menurut ibu Marta, status neneknya sudah bukan lagi sebagai hamba.

Sumber gambar, Andra Ahar/BBC News Indonesia
Hanya saja, menurut penuturan opa kepada ibu Marta, sang oma tak mau pergi dari desa itu gegara sudah terlanjur betah.
"Kata opa, sejak itu bapa raja (pemimpin dari keluarga bangsawan di kampung) sudah anggap oma sebagai saudara perempuan, tidak lagi hamba."
Di desa itulah, kakek-nenek Rambu—yang juga berasal dari keluarga bangsawan—"meminta" salah satu anak oma dan berjanji bakal menyekolahkannya.
Sebab, katanya, oma punya banyak anak. Dan, sebagai bentuk ikatan perjanjian, satu ekor hewan diberikan untuk disembelih.
"Waktu itu, neneknya Rambu tidak punya hamba. Jadi, karena dia lihat oma punya banyak anak, dorang (mereka) minta satu katanya mau disekolahkan. Nyatanya tidak."
Mulai dari situlah, orang tuanya ikut keluarga Rambu. Ibu dari Marta ini mengaku baru "diambil" ketika Rambu menikah dan diperlakukan seperti budak.
Sehari-hari, perempuan yang hanya lulus SD ini mengerjakan pekerjaan rumah tangga tapi tak pernah diberikan upah.
"Kita disuruh apa, ikuti sudah. Selama kerja, jarang dapat gaji, hanya pernah dikasih Rp200.000 atau Rp500.000. Tapi uang segitu tidak ada artinya."
Apa yang melatari kelas sosial di Sumba Timur?
Antropolog Sumba, Norlina Rambu Jola Kalunga, menuturkan orang Sumba menganut kepercayaan Marapu—yang menghormati arwah nenek moyang (leluhur) sebagai perantara untuk menyembah Yang Maha Pencipta atau disebut sebagai Mawulu Tau.
Sistem kepercayaan itu pula yang menjadi fondasi membentuk struktur sosial masyarakat Sumba, khususnya di Sumba Timur, ke dalam tiga kasta:
- Kelas teratas, golongan maramba atau bangsawan
- Kelas kedua, kabihu atau orang merdeka
- Kelas ketiga, ata atau hamba

Sumber gambar, Andra Anhar/BBC News Indonesia
Pembagian hierarki itu, juga tercermin lewat rumah adat Sumba atau Uma Mbatangu.
Di bagian teratas yang menjulang tinggi adalah ranah yang suci tempat menyimpan benda-benda sakral. Bagian kedua, ruang kehidupan dan aktivitas manusia. Bagian paling bawah diyakini tempatnya roh-roh kegelapan.
Mitos soal asal-usul ketiga kasta itu, kata Norlina, kian melegitimasi posisi mereka.
Golongan maramba, misalnya, dipercaya keturunan langsung dari nenek moyang agung yang pertama kali turun dari langit. Sehingga mempunyai keistimewaan dalam hal spiritual, politik, dan ekonomi.
Golongan kabihu, merujuk pada kelompok rakyat merdeka yang berbeda dari kasta maramba dan ata.
Sedangkan, golongan ata memiliki narasi asal-usul yang berbeda-beda.
Ada yang percaya bahwa ketika leluhur orang Sumba pertama kali menginjakkan kaki di tanah Sumba, ia datang dengan membawa hamba sahayanya.
Ada juga yang menyebut saat terjadi perang antar-suku di Sumba, mereka yang kalah akan ditawan dan dijadikan hamba bagi klan yang menang.
Bergeser ke era kolonial Belanda di Pulau Sumba, para penjajah dan elite lokal saling bertukar "komoditas". Elite lokal yang menginginkan senjata menukarnya dengan kain tenun, kayu cendana, hewan ternak, dan belakangan hamba.
Bagaimana relasi maramba, kabihu, dan ata?
Secara historis, maramba menguasai kekayaan berlimpah seperti tanah, ternak, perhiasan, rumah-rumah besar, serta hamba.
Pada masa kolonial, maramba kemudian menjelma menjadi raja-raja lokal lantaran memegang kendali kekuasaan suatu prai atau kampung.
Meskipun dominasi mereka berakhir pada 1958 seiring terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, namun pengaruh dan otoritas maramba tetap kuat hingga saat ini, ucap Norlina.

Sumber gambar, Andra Anhar/BBC News Indonesia
Kelompok kabihu, seringkali berperan sebagai rekan kerja atau penasihat maramba.
Sebaliknya, ata atau hamba, nyaris sepenuhnya bergantung pada maramba. Mereka tinggal bersama dengan tuannya dan mengurusi pekerjaan domestik, bekerja di ladang, serta memelihara ternak.
Biarpun begitu, menurut Norlina, sebagai pewaris ata, sesungguhnya maramba memiliki kewajiban terhadap seluruh aspek kehidupan hambanya. Mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga upacara kematian.
"Yang kemudian hamba ini juga akan memberikan seluruh hidupnya mengabdi kepada tuannya," jelas dosen di Universitas Kristen Wira Wacana Sumba ini.
Sementara dari sisi adat, posisi ata tak kalah penting.
Dalam upacara kematian seorang maramba atau bangsawan, para hamba setianya akan mengiringi mendiang menuju paraingumarapu (dunia arwah), kata Wakil Ketua Badan Pengurus Marapu di Sumba Timur, Umbu Remi.

Sumber gambar, Andra Anhar/BBC News Indonesia
Selama prosesi, para hamba mendapat perlakukan istimewa: diberikan pakaian, makanan, dan hiasan emas yang melambangkan kehormatan dan status mendiang.
Karena itulah, maramba dan ata ibarat kawan berbagi suka dan duka.
"Ketika tuannya berduka, ya dia ikut berduka. Saat tuannya senang, dia juga pasti senang," sebutnya.
"Tanpa ata, tidak ada yang namanya maramba. Kalau ada maramba yang tidak menghargai dia punya ata, berarti dia bukan maramba."
Hubungan yang disebut Norlina, simetri tersebut, pada dasarnya tak selalu buruk. Di masa sekarang, tak sedikit keluarga maramba memiliki kesadaran untuk menyekolahkan hamba-hambanya sehingga kelak mereka bisa hidup mandiri.
"Tapi harus diakui di beberapa tempat, terutama di wilayah yang feodalismenya masih sangat kuat, akses hamba untuk pendidikan sangat rendah," terangnya.
"Mereka hanya memiliki keterampilan dasar seperti bertanam, mengerjakan pekerjaan rumah atau menenun."

Sumber gambar, Andra Anhar/BBC News Indonesia
Relasi yang bergeser menjadi asimetri itu pada akhirnya menyerupai perbudakan. Sebab mereka mengalami eksploitasi, kekerasan, dan kehilangan kehormatan yang dibungkus atas nama "kesetiaan".
Dalam penelitiannya pada 2025 lalu, ia menemukan rata-rata pendidikan yang dicapai keluarga ata atau hamba, hanya lulusan SD atau SMP, bahkan tak sedikit yang tidak bersekolah sama sekali (drop out di tingkat sekolah dasar).
Cuma sebagian kecil yang mencapai jenjang SMA dan nyaris tidak ada yang bergelar sarjana. Itu mengapa, mata pencaharian utama keluarga ata adalah petani.
Kondisi itu berkebalikan dengan keluarga maramba yang mendominasi lulusan S1 dan S2. Mereka juga kebanyakan bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).
Menghasilkan keturunan budak?
Untuk mempertahankan keberlangsungan para budak, terdapat praktik budak yang dibawa sang istri bangsawan akan "dikawinkan" dengan budak dari pihak suami yang juga dari golongan bangsawan.
Proses kawin di kalangan budak, kata Norlina, umumnya berlangsung secara paksa dan tanpa upacara adat.
Malah, dalam beberapa kasus yang ia temukan, budak perempuan menjadi korban kekerasan seksual oleh tuannya sendiri.

Sumber gambar, Andra Anhar/BBC News Indonesia
Cara-cara tersebut, klaimnya, berlaku hingga keturunan anak-cucu mereka.
"Jadi sampai kapanpun status hamba (budak) itu akan terus melekat dalam dirinya sampai keturunannya dan semakin banyak hamba (budak), semakin banyak tenaga kerja."
"Bahkan, ada fenomena maramba menjual hambanya (kepada maramba lain) secara adat. Ketika hamba (budak) yang dibelinya sudah tinggal bersama, maramba ini punya kekuasaan atasnya. Ada yang dijadikan istri, ada yang dikawinkan dengan hamba (budak) laki-lakinya, atau menjadi tenaga kerja."
"Intinya, untuk tujuan menaikkan gengsi sosial bahwa dia adalah bangsawan yang memiliki hamba (budak)," bebernya.
Dalam kasus Maria maupun Marta—yang nenek moyangnya tidak menyandang status ata atau hamba—sebetulnya tidak bisa dibenarkan, tegas Norlina.
Sebab di budaya maupun adat Sumba, orang merdeka atau kabihu tak bisa diperjualbelikan sebagai budak.
Itulah kenapa, dugaannya, keluarga maramba yang tidak punya budak mengiming-imingi keluarga yang ekonominya rendah agar mau menyerahkan anak mereka dengan dalih disekolahkan.
"Memang harus ada tuannya atau maramba yang bertanggung jawab dan tahu silsilah hambanya. Dalam budaya Sumba, tidak ada orang biasa, orang merdeka, dibeli lalu dijadikan hamba (budak)," cetusnya.
"Itu tidak lazim dan termasuk kejahatan hak asasi manusia bahkan kejahatan kemanusiaan."

Sumber gambar, Andra Anhar/BBC News Indonesia
Umbu Remi, yang juga tokoh adat di Kampung Raja Prailiu, sependapat. Ia bilang, sangat jarang kalangan maramba atau bangsawan "membeli" hamba dari seseorang yang tidak memiliki hubungan keluarga. Apalagi bukan dari keturunan ata.
"Dia (maramba) hanya bisa mengambil (hamba) dari tempat itu (punya hubungan keluarga). Kalau sebelumnya sudah ada hubungan kawin-mawin, dia bisa mengambilnya."
Namun terlepas dari itu, Umbu Remi mengaku tidak setuju kalau hamba disetarakan dengan terminologi budak.
Karena budak tidak mempunyai hak sama sekali. Berbeda dengan hamba, yang klaimnya, dihormati secara adat dan diberi hak untuk sekolah hingga hidup mandiri.
Mengapa sulit menghilangkan praktik perbudakan di Sumba?
Meskipun sudah ada perubahan yang cukup signifikan di kalangan maramba—khususnya di perkotaan—karena tak lagi memiliki hamba, tapi bukan perkara mudah menyingkirkan praktik ini.
Sebab, bagaimanapun, fenomena "penghambaan" tersebut sudah mengakar kuat dalam tradisi, adat dan kepercayaan marapu.

Sumber gambar, Andra Anhar/BBC News Indonesia
Ditambah, pejabat di Sumba Timur sebagian besar dari kalangan maramba atau bangsawan yang memiliki budak—dan merasa diuntungkan dengan keberadaan mereka.
"Ini satu fenomena yang menjadi pergumulan, khususnya di Sumba Timur, karena dari empat kabupaten yang masih kuat feodalnya dan sistem stratifikasi sosialnya adalah Sumba Timur," jelas Norlina, mantan rektor di Universitas Kristen Wira Wacana Sumba ini.
"Mungkin karena kuatnya stratifikasi sosial inilah Sumba Timur masih terkategori daerah dengan kemiskinan ekstrem. Karena tidak semua masyarakat diberikan kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri sesuai potensinya."
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak (P2KB) Kabupaten Sumba Timur, Oktavianus Tamu Ama, membenarkan hal itu. Kata dia, sangat sulit untuk menghapus praktik "penghambaan" di Sumba Timur lantaran telah menyatu dengan budaya.
Sejumlah pejabat di lingkungan pemerintahan daerah, klaimnya, juga keturunan maramba.
Sejak ia menduduki posisi sebagai pejabat publik di Sumba Timur pun, nyaris tak ada kebijakan kepala daerah yang menyinggung isu ini.
"(Penghambaan) di Sumba Timur sudah ter budaya dari nenek moyang, kalau raja-raja di Sumba ini tahu kita mau lakukan itu, pasti kena serang sudah…"
"Mereka pasti omong, 'Apa kamu mau ubah ini barang? Kita nenek moyang begini'," tambahnya.
Tapi bukan berarti ia tinggal diam jika mendapat aduan soal kekerasan yang menimpa korban dari kalangan ata atau hamba. Dia berkata, tak pandang bulu kepada siapapun pelakunya, termasuk jika berstatus raja.
Kasus yang masuk ke dinas, rata-rata korbannya berusia anak dan mengalami kekerasan fisik hingga seksual.
Para korban, sambungnya, bakal langsung dibawa ke rumah perlindungan sampai membuat laporan ke kepolisian jika mereka bersedia. Setelahnya, mereka dibebaskan dari belenggu tuannya.

Sumber gambar, Andra Anhar/BBC News Indonesia
Sejauh ini, ia bilang, tak ada perlawanan dari pelaku.
"Karena saya cukup keras, ini kejahatan, siapapun pelakunya saya anggap tindakan (kekerasan) itu tidak adil. Anak-anak yang jadi korban harus dilindungi."
Tokoh adat di Kampung Raja Prailiu, Umbu Remi, tak menyangkal bahwa menghapus strata sosial di Sumba—terutama hamba—sama seperti berkhianat pada tuan dan ajaran agama.
"Ya, bisa dikatakan begitu. (Karena) dia akan berkhianat terhadap tuannya kemudian ajaran agamanya," sebutnya.
Ia bahkan menilai, pelaku kekerasan terhadap hamba tidak bisa digeneralisir.
"Mereka (maramba) yang melakukan itu karena dia tidak paham makna dari hamba. Tapi, kalau kami di Prailiu tidak pernah melakukan hal (kekerasan) seperti itu," klaimnya yang punya enam hamba di rumahnya.
'Berat, tapi bukan berarti tidak bisa'
Komisioner Komnas Perempuan, Sondang Frishka Simanjuntak, mengakui tantangannya memang berat, tapi bukan berarti tidak bisa.
Beberapa praktik adat atau budaya yang melanggar hak asasi manusia, seperti perkawinan anak maupun sunat perempuan, pada akhirnya bisa dilarang, meski memerlukan waktu panjang.

Sumber gambar, Andra Anhar/BBC News Indonesia
Dalam kasus perbudakan di Sumba Timur, katanya, hal pertama yang perlu dilakukan adalah pengakuan dari pemerintah daerah soal adanya praktik tersebut.
"Mereka harus memiliki kemauan untuk mengakui dulu, tidak denial," ucapnya.
"Karena dari pertemuan kami (dengan pemda Sumba Timur) pada 2023, mereka mengatakan isu ini sangat sensitif, sehingga mereka bahkan tidak mau menggunakan istilah hamba dan tuan."
Setelah ada pengakuan, pemda mesti mendata berapa banyak warga yang berstatus sebagai ata atau hamba, termasuk kasus kekerasan yang menimpa mereka, beserta anak-anaknya yang putus sekolah.
Dari situ, barulah melakukan intervensi berupa kebijakan yang menghapus sistem perbudakan di Sumba Timur.
Pada tataran nasional, pemerintah bersama DPR bisa membuat klausul dalam Rancangan Undang-Undang Masyarakat Adat yang isinya "melarang praktik-praktik adat yang melanggar hak asasi manusia".
"Sebab, dampak dari perbudakan, secara khusus terhadap perempuan, sangat berlapis. Dia powerless, voiceless, dan tidak punya hak atas tubuhnya," tegasnya. "Benar-benar berada di titik nadir."
'Saya ingin hidup bebas'
Kembali ke Maria dan Marta.
Saat saya menjumpainya akhir Februari lalu, ia bercerita belum sepenuhnya merasa aman meskipun sudah bebas dari kungkungan tuannya.

Sumber gambar, Andro Saini/BBC News Indonesia
Masih ada perasaan takut kalau bertemu dengan keluarga tuannya. Bayangan dia bakal dibawa paksa dan kembali dijadikan budak, selalu menghantui.
Itu kenapa, Maria tak berani keluar rumah sampai dirasa betul-betul aman.
"Saya masih takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," ucapnya.
Pikirannya kini hanya ingin melanjutkan hidup. Mencari uang supaya bisa membesarkan kedua bocah laki-lakinya.
Tapi jauh di dalam hatinya, tersimpan amarah yang belum padam.
"Saya marah dan ingin dia dihukum. Supaya dia merasakan apa yang saya rasakan dulu."

Sumber gambar, Andro Saini/BBC News Indonesia
Sementara itu, di rumah kerabatnya yang jauh dari pusat kota, Marta mengaku betah tinggal di sana. Hening.
Sembari menunggu rambutnya panjang, perempuan 19 tahun ini sudah mulai menata masa depannya. Ia ingin keluar dari Sumba dan bekerja—mengikuti jejak mamanya.
Ia merasa tak aman jika masih berada di kota, khawatir tuannya berbuat sesuatu padanya.
Saya pun bertanya padanya, seandainya dia dilahirkan kembali, hidup seperti apa yang ingin dijalani?
"Mau hidup bebas, saya tidak mau seperti dulu… pokoknya mau hidup bebas, walau sederhana yang penting bebas seperti sekarang," tuturnya sambil tersenyum.


























