You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Trump perpanjang gencatan senjata tapi tidak cabut blokade Selat Hormuz
- Penulis, Anthony Zurcher
- Peranan, North America correspondent
- Waktu membaca: 12 menit
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan AS akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran, atas permintaan Pakistan, dan akan melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Gedung Putih juga telah mengonfirmasi bahwa perjalanan Wakil Presiden JD Vance ke Pakistan untuk perundingan perdamaian telah dibatalkan. Vance sebelumnya dijadwalkan untuk kembali ke Islamabad untuk menghadiri perundingan damai putaran kedua dengan Iran mengingat gencatan senjata berakhir pada Rabu (22/04).
Berikut pernyataan Trump di media sosial:
Berdasarkan fakta bahwa pemerintah Iran saat ini terpecah secara serius—yang tidak terduga—dan atas permintaan Marsekal Lapangan Asim Munir serta Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, kami telah diminta untuk menunda serangan kami terhadap negara Iran sampai para pemimpin dan perwakilan mereka dapat menghasilkan sebuah proposal yang bersatu. Oleh karena itu, saya telah mengarahkan militer kami untuk melanjutkan blokade dan, dalam semua hal, tetap siaga dan mampu, serta dengan demikian akan memperpanjang gencatan senjata sampai proposal tersebut diajukan dan pembahasan disimpulkan, dengan satu atau lain cara.
Trump tidak secara rinci menyebutkan sampai kapan gencatan senjata berlaku. Dia hanya mengatakan bahwa ia memberikan Iran lebih banyak waktu untuk mengajukan sebuah "proposal yang bersatu" guna mengakhiri perang.
Ini menandai kedua kalinya dalam dua minggu Trump mundur dari ancaman untuk meningkatkan eskalasi perang.
Namun demikian, blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran tetap diberlakukan.
Pemerintah dan militer Iran memandang hal ini sebagai tindakan perang, dan kemungkinan besar hal tersebut akan tetap menjadi penghambat bagi perundingan ke depan.
Iran dapat memilih untuk meningkatkan eskalasi, atau melanjutkan semacam "perang dingin" di Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Sejak blokade dimulai, pasukan AS telah mengarahkan 27 kapal untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan Iran, menurut Komando Pusat AS (Centcom).
AS juga mencegat dan menyita sebuah kapal kargo berbendera Iran untuk pertama kalinya dalam konflik ini, setelah kapal tersebut mencoba menembus blokade pada Minggu (19/04).
Baca juga:Teheran tak akan pernah melepaskan kendali Selat Hormuz, kata politisi senior Iran kepada BBC
Trump menulis di platform Truth Social miliknya bahwa kapal Touska disita oleh Angkatan Laut AS setelah gagal merespons peringatan untuk berhenti. Iran belum memberikan komentar mengenai insiden tersebut.
"Hari ini, sebuah kapal kargo berbendera Iran bernama TOUSKA, dengan panjang hampir 900 kaki dan berat hampir setara dengan kapal induk, mencoba menerobos blokade laut kami, dan hal itu tidak berjalan baik bagi mereka," tulis Trump.
Dia menambahkan bahwa AS telah memberikan peringatan yang adil agar kapal tersebut berhenti, namun diabaikan, "sehingga kapal Angkatan Laut kami menghentikan mereka tepat di tempat dengan menembakkan lubang ke ruang mesin".
"TOUSKA berada di bawah sanksi Departemen Keuangan AS karena riwayat aktivitas ilegal sebelumnya. Kami sepenuhnya menguasai kapal tersebut dan sedang melihat apa isi muatannya!"
Teheran menyebut tindakan itu sebagai "aksi perompakan" dan pelanggaran terhadap gencatan senjata rapuh antara kedua negara.
Iran sendiri telah mempertahankan blokadenya di Selat Hormuz, jalur pelayaran penting, selama hampir dua bulan — menyebabkan harga energi global melonjak.
Pada Sabtu (18/04), militer Iran kembali menutup Selat Hourmuz hanya beberapa jam setelah sempat dibuka secara terbatas.
Iran mengatakan akan kembali membuka jalur strategis dunia tersebut sampai AS mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Teheran, apa yang mereka sebut "pelanggaran gencatan senjata.
Saat ini Iran mengatakan "sedang meninjau" usulan-usulan baru yang diajukan Washington.
Berikut kronologi negosiasi antara AS dan Iran yang diketahui sejauh ini:
28 Februari: Konflik meletus setelah AS dan Iran melancarkan serangan ke Iran seiring dengan gagalnya perundingan diplomatik.
6 Maret: Trump mengatakan tidak akan ada kesepakatan "kecuali penyerahan diri tanpa syarat" dari Iran.
21 Maret: Trump menetapkan batas waktu, mengancam akan menyerang infrastruktur energi Iran kecuali negara itu bersedia membuka Selat Hormuz.
23 Maret: Trump menunda batas waktunya, dengan alasan telah terjadi "percakapan yang produktif" — hal ini disusul oleh serangkaian penundaan ancaman lainnya.
7 April: Trump mengancam "sebuah peradaban akan punah" jika selat tersebut tidak dibuka sebelum batas waktu berikutnya.
8 April: Pakistan, yang bertindak sebagai mediator, mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu antara AS dan Iran guna memungkinkan dilakukannya pembicaraan lebih lanjut.
11 April: Jajaran pejabat senior AS dan Iran, termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, bertemu di Pakistan. Setelah 21 jam perundingan yang alot, Washington dan Teheran belum mencapai kesepakatan mengenai sejumlah poin krusial.
12 April: Trump mengumumkan pemblokiran pelabuhan-pelabuhan Iran.
17 April: Menlu Iran, Abbas Araghchi mengatakan selat tersebut akan tetap terbuka selama sisa masa gencatan senjata. Namun, Trump mengatakan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan terus berlanjut.
18 April: Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan akan kembali memblokir selat tersebut. Trump mengatakan bahwa "pembicaraan yang sangat baik" sedang berlangsung, tetapi AS tidak akan bisa "diancam" terkait jalur pelayaran tersebut.
Mengapa Iran kembali menutup Selat Hormuz?
Sejumlah media pemerintah Teheran menyebutkan, militer Iran kembali mengambil alih kendali Selat Hormuz.
Kantor berita Fars, yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), bersama Iranian Students News Agency dan lembaga penyiaran negara IRIB, mengutip pernyataan IRGC yang menyebutkan bahwa selat tersebut akan kembali ke "kondisi sebelumnya".
Dalam pernyataan itu, militer Iran menuduh Amerika Serikat melakukan "pembajakan" dan "blokade" sama dengan perampokan maritim.
Sebelumnya, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang memimpin delegasi Iran dalam perundingan terbaru dengan AS di Islamabad, mengatakan di X bahwa dengan "berlanjutnya blokade [AS]", selat tersebut "tidak akan tetap terbuka".
Seiring munculnya pengumuman tersebut, sebuah kapal tanker yang berada di Selat Hormuz dilaporkan diserang dua kapal cepat bersenjata yang dioperasikan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran, menurut lembaga UK Maritime Trade Operations (UKMTO).
Insiden itu terjadi sekitar 20 mil laut di timur laut Oman. UKMTO menambahkan bahwa kapal tanker dan awaknya dilaporkan dalam kondisi selamat.
Secara terpisah, setidaknya dua kapal dagang terkena tembakan saat mencoba melintasi Selat Hormuz, menurut tiga sumber yang dikutip kantor berita Reuters.
Beberapa kapal dagang menerima pesan radio dari Angkatan Laut Iran yang menyatakan bahwa Selat Hormuz kembali ditutup, menurut sumber-sumber pelayaran yang dikutip Reuters.
Sumber-sumber tersebut menambahkan bahwa Angkatan Laut Iran memberi tahu kapal-kapal tanker bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melintas melalui Selat Hormuz.
Sejumlah kapal tampaknya telah mengubah rute sejak media pemerintah Iran menyebut bahwa militer Iran kembali menutup Selat Hormuz.
Pengumuman bahwa militer Iran kembali menutup Selat Hormuz mengemuka hanya sehari setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan Selat Hormuz "sepenuhnya terbuka" selama "sisa masa gencatan senjata".
Dalam keterangannya yang diumumkan di X, pada Jumat (17/04), Araghchi menulis:
"Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur pelayaran bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka selama sisa masa gencatan senjata, melalui rute terkoordinasi sebagaimana telah diumumkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran."
Presiden AS Donald Trump kemudian mengunggah pernyataan di Truth Social:
"IRAN BARU SAJA MENGUMUMKAN BAHWA SELAT IRAN SEPENUHNYA TERBUKA DAN SIAP UNTUK LALU LINTAS PENUH. TERIMA KASIH!"
Dalam unggahan berikutnya, Trump menulis:
"NAMUN BLOKADE ANGKATAN LAUT AKAN TETAP DIBERLAKUKAN SEPENUHNYA DAN EFEKTIF TERHADAP IRAN SAJA, SAMPAI TRANSAKSI KAMI DENGAN IRAN SELESAI 100%."
"PROSES INI SEHARUSNYA BERJALAN SANGAT CEPAT KARENA SEBAGIAN BESAR POIN SUDAH DINEGOSIASIKAN. TERIMA KASIH ATAS PERHATIAN ANDA TERHADAP MASALAH INI! PRESIDEN DONALD J. TRUMP."
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan bahwa "apakah selat itu terbuka atau tertutup serta regulasi yang mengaturnya akan ditentukan di lapangan, bukan di media sosial."
Stasiun televisi pemerintah Iran mengutip seorang "pejabat militer senior" yang mengatakan bahwa pelayaran kapal-kapal komersial akan melalui "rute yang telah ditetapkan" dan bahwa pelintasan kapal militer melalui selat itu tetap "dilarang".
Pernyataan ini kemungkinan merujuk pada sebuah peta dan dua rute yang ditetapkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Peta tersebut disebarluaskan oleh media Iran pada pekan lalu.
Sejumlah perusahaan pelayaran mengaku masih memverifikasi apakah kapal-kapal komersial dapat melintasi selat tersebut secara aman.
"Saya memerlukan klarifikasi lebih lanjut bahwa tidak akan ada risiko bagi kapal-kapal untuk bernavigasi dan bahwa semuanya akan sesuai dengan hukum internasional," kata Arsenio Dominguez, kepala Organisasi Maritim Internasional (IMO), kepada BBC World Business Report.
IMO mendapat informasi beberapa kapal mulai berlayar melintasi Selat Hormuz, namun masih perlu memverifikasinya karena "beberapa kapal mematikan sistem identifikasi mereka agar tidak menjadi sasaran," katanya.
Cormac McGarry, direktur keamanan maritim di firma konsultan Control Risks, mengatakan bahwa ia "tidak lebih optimistis dibandingkan kemarin" mengenai dibukanya kembali selat tersebut, meskipun ada pengumuman dari Menlu Iran.
Cormac mengatakan kepada program BBC 5 Live Drive bahwa pernyataan tersebut "pada dasarnya tidak mengubah apa pun" karena ancaman implisit berupa ranjau masih ada.
"Saat ini, berbagai skenario terlihat cukup suram bagi pelayaran dalam beberapa pekan ke depan," tambah McGarry.
Pada Senin (13/04), militer Amerika Serikat mulai memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran guna membuka Selat Hormuz.
Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM) menyatakan bahwa blokade tersebut dilaksanakan atas perintah Presiden Donald Trump. Operasi ini bertujuan mencegah kapal-kapal berlayar menuju atau keluar dari pelabuhan Iran di kawasan Teluk Persia dan Laut Oman—di sebelah timur Selat Hormuz.
Sementara itu, Iran telah memperingatkan bahwa tidak ada pelabuhan di kawasan tersebut yang akan aman apabila keamanan Iran terancam.
Berdasarkan pemberitahuan yang dikeluarkan CENTCOM kepada para pelaut dan dilaporkan oleh kantor berita Reuters, kapal yang masuk atau meninggalkan wilayah yang diblokade tanpa izin akan dicegat, dialihkan, hingga ditahan.
Meski demikian, kapal pengangkut makanan dan obat-obatan tetap diizinkan melintas, dengan catatan harus melalui proses pemeriksaan.
Citra satelit memperlihatkan, kapal induk USS Abraham Lincoln telah bersiaga di bagian timur Teluk Oman, sekitar 200km sebelah selatan perairan Iran, sejak Sabtu (11/04).
Selain menempatkan kapal induk, militer AS mengerahkan dua kapal perusak yang mengangkut rudal kendali.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam pemberlakuan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran setelah para perunding dari kedua pihak gagal mencapai kesepakatan di Islamabad untuk mengakhiri perang.
"Tidak seorang pun yang membayar pungutan ilegal akan mendapat jalur aman di laut lepas," tulis Trump di Truth Social.
Dia juga menyatakan bahwa AS akan terus membersihkan ranjau di Selat Hormuz guna menjamin keamanan pelayaran kapal-kapal sekutu.
Militer AS, tambahnya, berada dalam posisi "siap tempur" dan siap melanjutkan serangan terhadap Iran pada "waktu yang tepat".
Apa reaksi China atas langkah AS?
Pemerintah China menyebut blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai tindakan "tidak bertanggung jawab dan berbahaya".
Kementerian Luar Negeri Beijing menilai langkah tersebut akan "melemahkan kesepakatan gencatan senjata yang sudah rapuh" sekaligus semakin mengancam keselamatan kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Sejauh ini, kapal-kapal China termasuk di antara sedikit yang berhasil melewati selat tersebut.
Belum jelas apakah China harus membayar biaya tertentu kepada Iran untuk bisa melintas.
Blokade AS berpotensi memutus pasokan bagi China dan menimbulkan dampak luas terhadap perekonomiannya.
"China percaya bahwa hanya dengan mencapai gencatan senjata menyeluruh dan mengakhiri perang, kita dapat secara fundamental menciptakan kondisi untuk meredakan situasi di selat," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun.
Dia menambahkan, "China mendesak semua pihak untuk mematuhi pengaturan gencatan senjata, berfokus pada arah umum dialog dan perundingan damai, mengambil langkah nyata untuk mendorong peredaan ketegangan regional, serta memulihkan lalu lintas normal di selat sesegera mungkin."
Apa reaksi Iran?
Pernyataan terbaru datang dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang mengatakan bahwa AS dan Iran sebenarnya "tinggal selangkah lagi" mencapai kesepakatan dalam perundingan damai di Pakistan.
Namun, menurutnya, Teheran kemudian justru dihadapkan pada sikap "maksimalis, perubahan tuntutan yang terus-menerus, serta ancaman blokade".
Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran yang memimpin perundingan di Pakistan, menyindir keputusan AS tersebut.
Dalam unggahan di platform X, dia menulis:
"Nikmati angka harga di pompa saat ini. Dengan apa yang disebut 'blokade' itu, tak lama lagi kalian akan bernostalgia dengan harga bensin 4–5 dolar AS."
Dalam pernyataan sebelumnya yang dimuat media-media Iran, Ghalibaf juga menegaskan bahwa Iran tidak akan "menyerah di bawah ancaman".
Menanggapi ancaman Presiden AS Donald Trump sebelumnya untuk memblokade "setiap dan semua kapal" yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz, angkatan laut Iran menyatakan bahwa setiap kapal militer yang mendekati jalur perairan tersebut akan ditangani secara "keras".
Apa yang dikatakan Trump tentang blokade pelabuhan Iran?
Dalam unggahan di Truth Social pada Minggu (12/04), Trump mengatakan bahwa AS akan mulai "MEMBLOKADE setiap dan semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz".
"Saya juga telah menginstruksikan Angkatan Laut kami untuk mencari dan mencegat setiap kapal di perairan internasional yang telah membayar pungutan kepada Iran. Tidak seorang pun yang membayar pungutan ilegal akan memiliki jalur aman di laut lepas," kata Trump.
Ia menambahkan bahwa AS juga akan mulai menghancurkan ranjau yang menurutnya telah diletakkan Iran di selat tersebut.
"Setiap orang Iran yang menembaki kami, atau kapal-kapal damai, akan DILEDAKKAN KE NERAKA!" lanjutnya.
Baca juga:
Trump mengatakan bahwa "pada suatu titik" kesepakatan tentang jalur lintas bebas akan tercapai, tetapi "Iran tidak mengizinkan hal itu terjadi hanya dengan mengatakan, 'Mungkin ada ranjau di suatu tempat di luar sana,' yang tidak diketahui siapa pun selain mereka".
Ia menambahkan dalam unggahan lain bahwa "Iran berjanji membuka Selat Hormuz, dan mereka dengan sadar gagal melakukannya".
"Seperti yang mereka janjikan, mereka sebaiknya mulai proses MEMBUKA JALAN AIR INTERNASIONAL INI DAN CEPAT!" katanya.
Dalam sebuah unggahan di X, Komando Pusat AS (Centcom) mengatakan pasukannya akan mulai menerapkan blokade pada Senin (13/04) pukul 10.00 EDT (21.00 WIB).
"Blokade akan ditegakkan secara tidak memihak terhadap kapal dari semua negara yang masuk atau keluar dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk semua pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman," katanya.
Centcom menambahkan bahwa pasukan AS tidak akan menghambat kebebasan kapal yang transit ke dan dari pelabuhan non-Iran, dan bahwa informasi tambahan akan diberikan kepada pelaut komersial melalui pemberitahuan resmi sebelum blokade dimulai.
Trump mengatakan bahwa negara-negara lain akan terlibat dalam pemblokadean selat tersebut, tetapi tidak menyebutkan negara mana.