Teror pocong jadi-jadian – Begal, konten prank atau konspirasi politik?

Ilustrasi pocong dengan latar rumah tua.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ilustrasi pocong dengan latar rumah tua.
    • Penulis, M. Irham
    • Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 12 menit

Teror pocong jadi-jadian memanggil ingatan sebagian masyarakat pada kengerian kolor ijo dan ninja. Ada apa di balik fenomena kemunculan dedemit jahat yang menciptakan ketakutan kolektif?

Penelitian Monash University Indonesia di media sosial menunjukkan, konten pocong bukan kampanye terpusat, tapi viral "organik yang dipercepat influencer".

Kendati demikian, narasi teror pocong yang semula prank justru menjelma modus kejahatan. Hal ini memicu diskusi luas tentang dugaan upaya menciptakan ketakutan sebagaimana kasus ninja hingga kolor ijo beberapa dekade lalu.

Meskipun tidak muncul tanda-tanda orkestrasi teror pocong di media sosial, kemunculan hal-hal gaib ini punya benang merah pada masanya yang dekat dengan gejolak ekonomi, politik dan keamanan, menurut akademisi.

Kemunculan teror makhluk supranatural yang punya motif kriminalitas dikhawatirkan justru dimanfaatkan pihak tertentu mengalihkan pandangan masyarakat dari kenyataan hidup yang sulit.

Di sisi lain, kepolisian tingkat lokal membongkar motif di balik pocong jadi-jadian di wilayah mereka. Misalnya, dari keisengan bocah menambahkan tempelan foto pocong pada video cctv, pengamen cosplay kain kafan, sampai kumpulan orang iseng bikin konten prank.

Pengajian ibu-ibu bubar lebih cepat

Sebuah pengajian rutin ibu-ibu di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan ditutup lebih cepat dari biasanya. Sebelum acara dimulai sebenarnya mereka sudah saling berbisik tentang kehadiran pocong jadi-jadian yang ramai diberitakan.

"Orang pada takut banget sekarang. 'Kita pulang yuk. Siang-siangan. Jangan pada sampai malam-malam'," kata perempuan 68 tahun yang hanya ingin dipanggil Ana, menirukan suara teman-teman pengajiannya.

Ana juga mendengarkan kasak-kusuk tentang kehadiran begal yang menyamar jadi pocong beberapa hari belakangan ini.

Ia diberitahu teman-teman pengajiannya, modus pocong jadi-jadian itu: memadamkan saklar listrik rumah, menunggu penghuni keluar, dan meneror dengan wajah gosong-mata mendelik.

Penampakan ini akan membuat si punya rumah kaget, sampai nyawa terasa tertarik ke belakang. Lari ketakutan ke antah berantah. Lalu, melupakan pintu rumah yang terbuka lebar. Di sinilah para perampok memanfaatkan situasi.

Para cosplayer hantu klasik Indonesia di sekitar Alun-alun Kota Bandung, Jawa Barat. Mereka merupakan bagian dari daya tarik wisata, banyak wisatawan berfoto bersama mereka.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Para cosplayer hantu klasik Indonesia di sekitar Alun-alun Kota Bandung, Jawa Barat. Mereka merupakan bagian dari daya tarik wisata, banyak wisatawan berfoto bersama mereka.

"Bukan [pocong asli]. Jadi orang dalamnya. Kan dia ramai-ramai. Ntar kalau dia masuk. Sudah berhasil. Dia baru [ramai-ramai] ngikut tuh masuk [rumah]," katanya, Senin (25/04).

Tapi itu katanya. Kata teman-teman Ana, yang belum benar-benar mengalami kejadian. Mereka juga mendengar kabar dari kata teman-temannya lewat media sosial pesan berantai, atau bisik-bisik.

Rumor tentang pocong jadi-jadian bukan cuma masuk ke dalam telinga Ana yang tinggal di Jakarta Selatan, tapi telah meluas sampai ke Jawa Timur, menurut penelitian Monash University Indonesia.

Bagaimana percakapan teror pocong jadi-jadian di media sosial?

Monash University Indonesia memantau arus percakapan di X periode 17 – 25 Mei 2026 dan menemukan 51.777 mention dan postingan "pocong", "teror pocong" dan "pocong jadi-jadian". Di periode yang sama terdapat 100 konten di Instagram terkait dengan pocong yang dianalisis.

Percakapan pocong mengalami lonjakan pesat mulai dari 68 mention pada 17 Mei, mengalami puncak pada 24 Mei dengan 24.274 mention di X.

Dari X dan Instagram, terdapat empat narasi utama yang berkembang:

  • Keresahan warga dan testimoni penampakan
  • Dugaan modus kejahatan dengan kostum pocong
  • Klarifikasi/bantahan dari aparat kepolisian
  • Konspirasi politik yang mengaitkan fenomena ini dengan pengondisian opini atau pola teror 1990an
Jakarta, Indonesia - 18 Mei 2015: Meja rias berbentuk pocong bergaya hantu untuk menarik pengunjung di kota tua Fatahillah, Jakarta Pusat, Indonesia

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Seorang cosplay pocong untuk menarik pengunjung di kota tua Fatahillah, Jakarta Pusat.

Platform X

Dari 51 ribu unggahan dan singgung pocong di X, Monash University Indonesia mengambil sampel dari 933 postingan/reply yang berdampak luas.

Peneliti kebijakan publik Monash University Indonesia, Ika Idris mengatakan teror pocong jadi-jadian pertama kali muncul dari unggahan sebuah akun pada 16 Mei.

Unggahan ini berisi tentang pocong yang meneror Desa Sumbersari, Bekasi, Jawa Barat berhasil ditangkap.

Data percakapan tentang pocong di X mencapai puncaknya pada 24 Mei 2026 setelah dimulai dari unggahan berita pocong yang ditangkap di Bekasi, Jawa Barat.

Sumber gambar, Monash University Indonesia

Keterangan gambar, Data percakapan tentang pocong di X mencapai puncaknya pada 24 Mei 2026 setelah dimulai dari unggahan berita pocong yang ditangkap di Bekasi, Jawa Barat.

Dimulai dari Bekasi, perbincangan teror pocong meluas ke Tangerang (Pamulang, Pondok Ranji, Cipondoh, Rajeg, Ciputat Timur), Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Depok.

Lompatan ke luar Jabodetabek: Pasuruan & Lamongan (Jawa Timur), Jember, Sidoarjo, Kediri, Batang & Klaten (Jawa Tengah), Cilegon (Banten).

"Pola ini menunjukkan replikasi narasi lokal—di tiap kota, sebuah video pocong dapat dengan cepat diadopsi sebagai 'kejadian lokal kami juga', meski sebagian besar belum ada laporan resmi," kata Ika Idris, Selasa (26/05).

Sentimen postingan tentang teror pocong di X.

Sumber gambar, Monash University Indonesia

Keterangan gambar, Sentimen postingan tentang teror pocong di X.

Dari 933 data sampel percakapan X, sangat didominasi sentimen negatif (73,2%), netral (23,5%), dan positif (3,3%).

"Sentimen negatif merefleksikan keresahan, kemarahan, kecurigaan terhadap motif kriminal, serta kritik politik. Sementara itu, konten netral umumnya berasal dari pertanyaan/klarifikasi, dan konten positif sebagian besar adalah humor/meme," jelas Ika.

Data kluster X

Sumber gambar, Monash University Indonesia

Hasil temuan analis media sosial ini juga menyebutkan para aktor yang menggelorakan topik pocong di X, mayoritas (54%) berasal dari akun dengan pengikut kurang dari 1.000.

"[Ini] menandakan partisipasi warganet biasa yang sangat tinggi, bukan kampanye yang murni digerakkan elit," tambah Ika.

Jangkauan percakapan tentang pocong "terkonsentrasi di tangan sejumlah kecil akun makro dan mega". Akun makro punya 10.000 – 100.000 pengikut, dan akun mega dengan lebih dari 100.000 pengikut.

Namun, perbicangan meluas saat narasi pocong berubah menjadi pocong sebagai "modus kejahatan".

"Ketika warga percaya pocong adalah cosplay penjahat, pertanyaan berikutnya adalah siapa yang mengorganisasi? Dari sini narasi konspirasi pra 1998 yaitu dukun santet, dan pengondisian opini menemukan resonansinya," tambah Ika.

Ilustrasi pocong dalam bentuk kartun.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ilustrasi pocong.

Di tengah situasi ini, sejumlah pemerintah daerah menyerukan agar warga tidak mudah terprovokasi dan percaya terhadap isu ini. Misalnya diungkapkan Wali Kota Tangerang, Sachrudin.

Akun-akun dari kepolisian, memberi klarifikasi sehari setelah spekulasi ini berkembang. Beberapa akun polisi menyatakan teror pocong sebagai hoaks, hasil editan, dan konten sensasional.

Kluster IG

Sumber gambar, Monash University Indonesia

Keterangan gambar, Sebagaimana X, kluster narasi soal pocong di Instagram juga didominasi tentang keresahan warga.

Platform Instagram

Periode yang sama, terdapat 100 unggahan pocong di Instagram juga dianalisis. Di Platform ini, klarifikasi aparat keamanan jauh lebih dominan (≈37% konten) dibanding di X (≈3%).

"Sebagian besar konten Instagram dalam dataset adalah re-upload media/aparat yang merespons isu yang sudah viral," kata Ika.

Pengunggah topik pocong yang konsisten berasal dari akun-akun horor. Rata-rata postingan dilakukan malam hari yaitu pukul 20.00 – 23.00.

Di sisi lain, akun aparat seperti Polda Metro Jaya, Polres Kediri, Polsek Ciracas, Polsek Curug, Polsek Cilegon, Polsek Mayang, Polsek Semboro, Humas Polres Jember tampil sebagai aktor klarifikasi.

Serupa temuan dengan X, di Instragram klaster terbesar juga menggambarkan keresahan warganet.

Ada apa di balik fenomena pocong jadi-jadian?

Menurut dosen sejarah di UIN Syarif Hidayatullah, Endi Aulia Garadian, kemunculan legenda urban ifrit, termasuk pocong jadi-jadian kerap hadir di tengah ketidakpastian ekonomi.

Fenomena penampakan pocong di media sosial juga pernah muncul awal pagebluk Covid-19 saat aktivitas masyarakat mandek, krisis ekonomi global terjadi.

"Setiap ada ketidakpastian sosial atau ekonomi, respons masyarakat itu memunculkan fenomena-fenomena yang, kita bilang kayak urban legend, hantu-hantu kota. Ya kayak pocong, kolor ijo, vampir, dulu saya ingat waktu masih kecil, ninja, dan sebagainya," katanya.

Searah jarum jam: pelbagai makhluk halus yang juga muncul di Amerika Latin yaitu La Llorona, El Chupacabras, El Familiar, El Sombrerón, dan El Silbón.

Sumber gambar, OSWALDO DUMONT

Keterangan gambar, Searah jarum jam: pelbagai makhluk halus yang juga muncul di Amerika Latin yaitu La Llorona, El Chupacabras, El Familiar, El Sombrerón, dan El Silbón.

Keyakinan ini juga dikuatkan kemunculan makhluk gaib saat situasi ekonomi sulit di negara ketiga seperti Amerika Latin. Misalnya El Chupacabras (makhluk pengisap darah) di Meksiko, El Familiar (iblis anjing tanpa kepala) di Argentina, dan El Tio (makhluk perpaduan manusia dan kambing) di Bolivia.

"Mata uang peso devaluasi, krisis ekonomi sampai ada demo-demo… memunculkan fenomena El Chupacabras menjadi legenda penghisap hewan-hewan ternak. Dan saya kira di Indonesia juga ketakutan-ketakutan kita terhadap [krisis] ekonomi, dicoba dialihkan kepada ketakutan-ketakutan yang sifatnya mistis," katanya.

Endi membuat penelitian bertajuk "Urban Legend Kolor Ijo: Konstruksi Ketakutan di Jakarta, 2003-2005". Studi ini ditulis di Jurnal Socio Historica yang dipublikasi 2022.

Pengguna cosplay zombie dengan luka di sekujur tubuh dalam konsep Halloween.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Pengguna cosplay zombie dengan luka di sekujur tubuh dalam konsep Halloween.

Kolor ijo adalah dedemit legenda kota yang dipercaya sering mendatangi perempuan yang tidur sendiri di malam hari, lalu memperkosanya.

Tak ada yang bisa memastikan apakah kolor ijo ada atau tidak. Tapi banyak kabar burung beredar sosok kolor ijo digambarkan punya muka seperti babi, bulu lebat di badan, bisa menghilang, bertubuh manusia, kuping lebar, dan sesuai identitasnya menggunakan kolor berwarna hijau.

Kemunculan kolor ijo terjadi di awal dan medio 2000 saat fase konsolidasi demokrasi setelah Reformasi 1998. Indonesia memang mulai pulih pasca krisis ekonomi 1998, tapi pengangguran tinggi dan kemiskinan signifikan. Kriminalitas dan kecemasan masyarakat saling berkelindan.

ilustrasi

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ilustrasi

Beberapa peristiwa penting seperti terorisme (Bom Bali), konflik Poso, Aceh dan Maluk serta reformasi TNI-Polri sedang berkecamuk. Di sisi lain, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi belum pulih, tapi budaya mistik masih kuat.

Menurut Endi, kehadiran kolor ijo menciptakan ketakutan kolektif, menggerakkan masyarakat saat itu rutin ronda dan siskamling. Berebut membeli daun kelor dan tidur bersama bambu kuning—sebagai penangkal.

Terkait apakah fenomena teror pocong jadi-jadian terbaru ada pihak yang memanfaatkan untuk mengalihkan isu yang lebih besar, Endi menjawab: "Ada yang menunggangi atau tidak, saya nggak bisa bilang iya atau tidak, tapi setiap ada krisis ekonomi selalu muncul".

Bagaimanapun, pria yang sedang menempuh studi doktoral di Departemen Sejarah Northern Illinois University melihat perbedaan media penyampaian kolor ijo dan pocong jadi-jadian.

"Kalau Mas kolor ijo dulu, penyebaran pesannya itu kan orang-orang yang bergosip… tukang sayur keliling, misalnya. Orang-orang yang ketemu di pasar, lalu ngobrol dan bergosip. Kalau sekarang, saya kira karena ada medsos, jadi lebih mudah lagi tersebar rumor atau gosip mengenai itu," katanya.

Akademisi di UIN Syarif Hidayatullah, Endi Aulia Garadian meneliti teror kolor ijo pada 2003-2005. Ia menemukan legenda urban biasanya muncul saat masyarakat tercekik masalah ekonomi.

Sumber gambar, Dokumen Pribadi

Keterangan gambar, Akademisi di UIN Syarif Hidayatullah, Endi Aulia Garadian meneliti teror kolor ijo pada 2003-2005. Ia menemukan legenda urban biasanya muncul saat masyarakat tercekik masalah ekonomi.

Ibnu Avena Matondang, antropolog dari Universitas Sumatra Utara (USU) melihat kemunculan pocong jadi-jadian atau kolor ijo sebagai "hiperrealitas".

"Di depan realitas itu disebarkan semacam realitas baru untuk menakuti atau menyembunyikan realitas dalam bentuk mitos," katanya.

Realita dalam bentuk mitos ini, kata Avena, sering muncul dan bersirkulasi pada masyarakat relijius sekaligus punya budaya mistis kuat.

"Jadi dalam kepercayaan secara religiusnya itu kan ada dimensi lain yang itu berdampingan dengan manusia," katanya. Tapi hal ini sebenarnya sudah kuno, karena kemajuan zaman menuntut orang berpikir rasional dalam melihat realita bukan memalingkan wajah pada realita semu berbentuk mitos.

Ibnu Avena Matondang, antropolog dari Universitas Sumatra Utara (USU) menilai viralnya teror hantu di media sosial merupakan bentuk hiperrealita. Sebuah realita baru dalam bentuk mitos yang muncul menghalangi realita yang sesungguhnya.

Sumber gambar, Dokumen Pribadi

Keterangan gambar, Ibnu Avena Matondang, antropolog dari Universitas Sumatra Utara (USU) menilai viralnya teror hantu di media sosial merupakan bentuk hiperrealita. Sebuah realita baru dalam bentuk mitos yang muncul menghalangi realita yang sesungguhnya.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Menurutnya, viral teror pocong jadi-jadian bisa menjadi uji coba pemikiran logis masyarakat saat ini, khususnya generasi muda dalam menghadapi realita.

"Supaya orang lebih logis menerima realitas kehidupan. Enggak lagi harus menerima itu sebagai stigma atau rekonstruksi [ketakutan]," katanya.

Ia khawatir jika teror pocong jadi-jadian tidak dikritisi secara rasional, maka bisa saja dimanfaatkan pihak tertentu untuk menutupi masalah masyarakat yang sebenarnya: pengangguran, kemiskinan, biaya hidup tinggi, pendidikan tak bermutu, korupsi di kalangan pejabat publik, akses kesehatan sulit dan lain sebagainya.

"Nantinya dipolitisasi kekuasaan agar bisa mengalihkan, itu yang dikhawatirkan," katanya.

Baca Juga:

Endi Aulia Garadian juga menyerukan agar publik tetap kritis terhadap viralnya teror pocong jadi-jadian.

"Jangan ikut-ikutan membuat konten kayak gitu ya kalau menurut saya. Jadi malah membuat isunya semakin liar," katanya.

"Karena kita tidak rasional, karena kita takut, sebagai massa kita sudah mudah dikendalikan."

Selain itu, pada beberapa kasus gosip makhluk supranatural yang membangun ketakutan bahkan sengaja dikomersialisasi demi keuntungan bisnis, kata Endi.

Garis

Ninja 1998-1999

Bagaimanapun, tidak semua teror hantu berbalut kejahatan hanya kabar burung. Pada era kejatuhan orde baru, "teror ninja" yang memburu dukun santet khususnya di Jawa Timur, benar-benar nyata menelan korban jiwa.

Ini bukan seperti ninja atau shinobi yang digambarkan dalam anime Jepang, misalnya Naruto atau Hattori yang mampu mendaki gunung, lewati lembah.

Ungkapan ninja di Jawa Timur melekat dengan "kelompok terlatih, bergerak cepat dan dapat menghilang".

Mereka bergerak dalam bayangan, membunuh warga sipil—yang dituduh sebagai dukun santet—secara brutal pada periode 1998-1999.

Ilustrasi ninja.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ilustrasi ninja.

Jumlah korban meninggal akibat serangan ninja di Banyuwangi, Jember, Surabaya, Gresik, Lamongan, dan Malang tercatat 253 orang. Korban terbanyak di Banyuwangi, yaitu 169 orang. Mayoritas korban disebut sebagai "warga Nahdlatul Ulama".

Periode ini sedang terjadi krisis ekonomi, krisis kepercayaan pada militer, dan gejolak politik yang ditandai lengsernya Presiden Suharto.

"Kami bisa mengidentifikasi, [aktor] itu datang dari kelompok yang terorganisir dan terlatih," kata Beka Ulung Hapsara, eks ketua tim penyelidikan kasus ini.

Menurut Beka, situasi politik tidak dapat dipisahkan dari tragedi di Banyuwangi itu yaitu "Jawa Timur adalah barometer politik saat itu."

"Di mana kekuatan politik kaum Nadhliyin [di Jatim] itu besar, sehingga dianggap perlu ada peristiwa-peristiwa seperti dukun santet, ninja, dan lain-lain, sebagai bagian suatu operasi politik," jelas Beka.

Peristiwa ini menjadi salah satu kasus pelanggaran HAM berat masa lalu yang laporannya sudah masuk ke Kejaksaan Agung. Namun, sampai hari ini pelakunya belum terungkap.

Garis

Jenis pocong apa saja hasil temuan polisi di lapangan?

Polisi mengklaim telah mengurai fakta yang sebenarnya tentang keberadaan pocong di sejumlah daerah sebagai: produk konten usil, sekadar cosplay atau cari sensai demi viral.

  • Pocong hasil editan

Polsek Ciracas, Jakarta Timur memastikan informasi viral terkait "teror pocong" di wilayah Ciracas, Jakarta Timur adalah "HOAX".

"Hasil pengecekan petugas di lokasi, pemeriksaan saksi, serta pengecekan CCTV diketahui bahwa gambar pocong tersebut merupakan hasil edit menggunakan AI dari foto CCTV lingkungan warga yang kemudian disebarkan ke media sosial hingga menimbulkan keresahan," kata pernyataan Polsek Ciracas lewat akun Instagram.

Dalam video yang dibagikan Polsek Ciracas, seorang ibu mengakui anaknya iseng menyunting foto dengan ada pocongnya. Foto ini kemudian viral.

"Mohon maaf untuk keresahan yang ada," katanya. Ia meminta agar warganet tidak menyebarluaskan foto tersebut.

Ilustrasi boneka hantu yang sedang dimainkan.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ilustrasi boneka hantu yang sedang dimainkan.
  • Pengamen cosplay pocong

Di Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten, kepolisian setempat mendapat kesaksian warga yang melihat dua pocong sedang jajan di warung kelontong.

Menurut polisi, saksi mengatakan keduanya bukan hantu sungguhan, tapi pengamen yang sedang cosplay pocong.

  • Laporan hoaks pocong bergolok

Di Pamulang, kepolisian setempat menerima laporan masyarakat tentang pocong bergolok melalui saluran siaga (hotline). Pocong jenis ini disebut modus begal, bisa melukai korbannya dengan senjata tajam.

Tapi setelah ditelusuri ke lokasi, polisi mengaku tidak mendapatkan pocong yang dimaksud. Saat dihubungi balik, nomor pelapor sudah tidak aktif.

William Hope menciptakan foto dengan pencahayaan ganda sehingga membuatnya tampak seolah-olah ada hantu dalam bingkai. (Kredit: National Media Museum)

Sumber gambar, National Media Museum

Keterangan gambar, William Hope menciptakan foto dengan pencahayaan ganda sehingga membuatnya tampak seolah-olah ada hantu dalam bingkai. (Kredit: National Media Museum)

"Jangan menyebar hoaks untuk membuat resah masyarakat dan masyarakat juga kami imbau untuk tidak langsung percaya informasi di media sosial. Check dan recheck kembali faktanya," kata Kapolsek Ciputat Timur Kompol Bambang Askar Sodiq seperti diberitakan Detik.

  • Pocong cari sensasi ditangkap

Polisi menangkap tiga pria di Kecamatan Plosoklaten, Kediri, Jawa Timur. Menurut polisi, mereka membuat konten pocong yang disebut menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

"Dari hasil penyelidikan, motif para pelaku membuat video pocong itu hanya untuk mencari sensasi dan konten media sosial agar terkenal. Mereka mengikuti tren yang saat ini sedang hits di media sosial," kata Kasatreskrim Polres Kediri, AKP Joshua Peter Krisnawan, Minggu (24/05).